Pemimpin Baru Hamas Khalil Al-Hayya Kehilangan Empat Putranya akibat Bom Israel

12 jam yang lalu 3
Pemimpin Baru Hamas Khalil Al-Hayya Kehilangan Empat Putranya akibat Bom Israel Khalil al-Hayya.(Al Jazeera)

HAMAS secara resmi menunjuk Khalil al-Hayya sebagai pemimpin baru organisasi tersebut pada Senin (20/7). Penunjukan al-Hayya, seorang negosiator senior nan dikenal mempunyai hubungan sangat dekat dengan Iran, dilakukan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan setelah tewasnya Yahya Sinwar dalam pertempuran dengan pasukan Israel pada Oktober 2024.

Pemilihan al-Hayya, nan sekarang berumur 65 tahun, berjalan melalui proses pemungutan bunyi rahasia nan cukup alot di tingkat majelis golongan tersebut. Dalam putaran pertama, al-Hayya bersaing ketat dengan Khaled Meshaal, kepala instansi Hamas di pengasingan. Karena tidak ada kandidat nan memperoleh kebanyakan suara, pemungutan bunyi kudu dilanjutkan ke putaran kedua. Perpecahan bunyi ini mencerminkan ada perbedaan pandangan internal mengenai arah masa depan Hamas.

Profil dan Kedekatan dengan Iran

Lahir di Kota Gaza dan dikenal dengan julukan Abu Osama, al-Hayya merupakan salah satu pendiri Hamas pada akhir 1980-an. Ia memegang gelar ahli dalam bagian yurisprudensi Islam. Terpilihnya al-Hayya dipandang sebagai kelanjutan dari garis kebijakan Yahya Sinwar, terutama dalam mempertahankan support Iran terhadap faksi-faksi Palestina.

Al-Hayya mempunyai rekam jejak panjang dalam memperkuat hubungan dengan Teheran. Ia adalah salah satu arsitek utama rekonsiliasi Hamas dengan Suriah pada 2022, setelah hubungan tersebut sempat retak akibat bentrok internal di negara itu. Kedekatannya dengan poros Iran terlihat jelas saat dia menghadiri pelantikan Presiden Iran berbareng Ismail Haniyeh, sementara rivalnya, Khaled Meshaal, memilih untuk tidak hadir.

Penyintas Upaya Pembunuhan

Kepemimpinan al-Hayya dimulai di tengah ancaman keamanan nan terus berlanjut. Pada September 2025, Israel dilaporkan mencoba membunuh al-Hayya melalui serangan udara terhadap suatu gedung nan menampung delegasi Hamas di Doha, Qatar. Al-Hayya selamat dalam serangan tersebut, tetapi putranya, Hommam, beserta kepala instansi dan beberapa ajudannya tewas.

Kehilangan personil family akibat serangan Israel bukanlah perihal baru bagi al-Hayya. Secara total, dia kehilangan empat putra dan banyak kerabat lain. Putranya nan lain, Osama, tewas pada perang 2014; Hamza tewas dalam serangan pesawat tak berawak pada 2008; dan Azzam meninggal awal tahun ini akibat luka-luka dari serangan udara di Gaza.

Diplomasi tidak Terduga dengan AS

Menariknya, duka mendalam al-Hayya atas kehilangan anak-anaknya sempat menciptakan momen kerentanan manusiawi dalam jalur diplomasi nan tidak biasa. Setelah Donald Trump mengizinkan kontak langsung dengan golongan tersebut, utusan senior AS Steve Witkoff dan Jared Kushner berjumpa al-Hayya di Mesir tak lama setelah serangan di Doha.

Witkoff, nan juga kehilangan seorang putra, menyampaikan belasungkawa secara pribadi kepada al-Hayya. Momen tersebut digambarkan oleh Kushner sebagai transisi dari negosiasi politik nan kaku menjadi hubungan antarmanusia nan saling menunjukkan sisi emosional.

Restrukturisasi Organisasi

Dengan terpilihnya al-Hayya, majelis transisi beranggotakan lima orang nan memimpin Hamas sejak kematian Sinwar bakal segera dibubarkan. Seorang pejabat senior Hamas menyatakan bahwa biro politik bakal segera berjumpa di Istanbul, Turki, untuk membentuk komite baru dan memulai restrukturisasi badan kepemimpinan organisasi secara menyeluruh.

Catatan Redaksi: Data mengenai pemilihan dan perincian serangan di Doha berasas laporan lapangan dan info nan dihimpun hingga Juli 2026. Proses restrukturisasi Hamas saat ini tetap terus dipantau oleh pengamat geopolitik internasional. (The Telegraph/I-2)

Selengkapnya