Pemkot Makassar Libatkan Mahasiswa dalam Mitigasi Bencana Berbasis Komunitas

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Pemkot Makassar Libatkan Mahasiswa dalam Mitigasi Bencana Berbasis Komunitas Pemerintah Kota Makassar gandeng 23 perguruan tinggi untuk mencetak 23.000 mahasiswa sebagai pemasok mitigasi bencana(MI/Lina Herlina)

TIDAK hanya mengandalkan tembok beton dan pompa air, Kota Makassar memilih strategi jitu untuk menghadapi ancaman banjir dan kekeringan, dengan membentengi diri dengan ribuan anak muda tangguh.

Di tengah intensitas cuaca ekstrem nan kian tak terduga, Pemerintah Kota Makassar meluncurkan terobosan masif dengan menggandeng 23 perguruan tinggi untuk mencetak 23.000 mahasiswa sebagai pemasok mitigasi bencana.

Langkah ini sekaligus mengubah paradigma, bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tugas aparat, melainkan sebuah budaya nan kudu mengakar hingga ke tingkat keluarga.

Ancaman perubahan suasana telah mengubah wajah kebencanaan di Makassar. Banjir rob nan menggerus pinggiran pantai, kekeringan nan menakut-nakuti musim kemarau, hingga cuaca ekstrem nan datang tiba-tiba, sekarang menjadi "musuh" sehari-hari nan kudu dihadapi dengan senjata modern, ialah kesiapan sumber daya manusia.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa tidak ada ruang lagi untuk bersikap reaktif. Dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana di Anjungan MNEK, Selasa (14/7), dia menyerukan sebuah lompatan besar.

"Penanggulangan musibah adalah tanggung jawab kita semua. Bukan hanya pemerintah, tapi setiap individu, keluarga, dan komunitas. Kita kudu menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, bukan sekadar prosedur," tegas Munafri di hadapan ribuan personel campuran dari TNI, Polri, Basarnas, hingga puluhan relawan.

Namun, gebrakan paling menarik muncul dari kerjasama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan bumi pendidikan. Sebanyak 23 perguruan tinggi di Makassar menandatangani perjanjian kerja sama untuk melahirkan 23.000 Mahasiswa Tangguh Bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar training seremonial. "Para mahasiswa bakal terjun langsung ke lapangan. Mereka bakal belajar memetakan risiko, melakukan pengamanan mandiri, hingga menjadi garda terdepan ketika keadaan darurat," ujarnya.

Dengan sasaran 1.000 mahasiswa dari setiap kampus, program ini diharapkan menciptakan ekosistem kebencanaan baru. Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton saat bencana, tetapi menjadi pemasok edukasi bagi masyarakat sekitar dan kader kemanusiaan nan siap siaga.

Wali Kota Munafri juga menekankan pentingnya prinsip Build Back Better. "Setelah bencana, kita tidak boleh hanya membangun kembali seperti sedia kala. Kita kudu membangun kembali nan lebih baik, lebih aman, dan lebih kuat," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa berasas kajian risiko, Makassar mempunyai potensi ancaman besar nan dipicu oleh cuaca dan iklim.

"Kita hadapi ancaman banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Ini adalah tantangan nyata, dan kita tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kerjasama pentahelix: pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media," pungkas Appi.

Sebelumnya disebutkan, tandus tahun ini menghantam Kota Makassar, Sulawesi Selatan mengakibatkan kekeringan sekarang meluas ke 27 kelurahan di enam kecamatan, menakut-nakuti lebih dari 50 ribu jiwa nan mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih harian mereka.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat, hingga 9 Juli 2026, sedikitnya 173 titik kekeringan telah teridentifikasi. Ribuan rumah tangga terpaksa beradaptasi dengan kesiapan air nan kian menipis, sementara pemerintah menyiapkan langkah darurat.

Berdasarkan info nan dihimpun BPBD sejak awal Juni lalu, kecamatan Biringkanaya menjadi wilayah nan paling terpuruk. Sebanyak 58 titik kekeringan tersebar di empat kelurahan, mempengaruhi 14.787 jiwa, nomor tertinggi dibanding wilayah lain. (LN)

Selengkapnya