Pengalaman Pengabdian Purnatugas harus Dimanfaatkan Jadi Modal Kewirausahaan

1 jam yang lalu 4
Pengalaman Pengabdian Purnatugas kudu Dimanfaatkan Jadi Modal Kewirausahaan Focus Group Discussion (FGD) Narasraya(RJI)

Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal mendorong para ajudan nan memasuki masa purnatugas mempersiapkan transisi pekerjaan dengan mengubah paradigma dari pelaksana menjadi pembuat nilai. Pengalaman selama bertugas, menurut dia, dapat menjadi modal untuk memasuki bumi ahli maupun kewirausahaan.Hal itu disampaikan Syam dalam Focus Group Discussion (FGD) Narasraya di Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (8/8). Dalam forum tersebut, dia membahas strategi alih pekerjaan dengan mengoptimalkan ketangkasan dan mentalitas ajudan menghadapi tantangan kewirausahaan.

"Pengalaman itu telah membentuk sejumlah modal karakter nan sangat berbobot untuk memasuki bumi ahli maupun kewirausahaan, seperti disiplin, loyalitas, kecepatan eksekusi, keahlian membaca situasi, manajemen tekanan, dan integritas," kata Syam.

Menurut Syam, beragam pengalaman tersebut tidak semestinya ditinggalkan ketika seseorang beranjak profesi. Sebaliknya, pengalaman itu perlu dikonversi menjadi kompetensi, jaringan, keahlian kepemimpinan, dan kapabilitas menciptakan nilai.

"Yang perlu diubah bukan karakternya, tetapi paradigma berpikirnya," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu tantangan dalam alih pekerjaan adalah keluar dari pola pikir dan identitas lama. Lingkungan kerja ajudan, kata dia, selama ini membentuk keahlian menjalankan sistem, menjaga stabilitas, merespons petunjuk dengan cepat, serta meminimalkan kesalahan.

Kemampuan tersebut dapat menjadi kekuatan ketika memasuki bumi baru. Namun, kewirausahaan memerlukan keahlian tambahan, seperti menciptakan peluang, membangun sistem, mengelola ketidakpastian, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap risiko.

Karena itu, Syam menilai mentalitas disiplin nan dimiliki ajudan perlu diperluas dengan mentalitas entrepreneur. Ia menyebut lima pola pikir nan krusial dikembangkan, ialah growth mindset, ownership, opportunity thinking, value creation, dan adaptive learning.

"Kelimanya menjadi jembatan untuk mengubah pengalaman masa lampau menjadi keahlian membaca kesempatan dan menciptakan faedah baru," katanya.

Syam juga mengingatkan bahwa kesiapan memasuki bumi upaya tidak cukup hanya dengan membekali diri dengan pengetahuan bisnis. Menurut dia, proses transisi kudu mencakup aspek spiritual, mental, emosional, fisik, sosial, dan finansial.

"Ketidakseimbangan pada satu dimensi dapat memengaruhi kualitas keputusan dan keberlanjutan kehidupan maupun upaya seseorang," ujarnya.

Dalam FGD tersebut, Syam juga memperkenalkan konsep Hypno Success Method nan terdiri atas enam tahapan, ialah awareness, acceptance, release, reprogramming, conditioning, dan alignment. Metode itu, menurut dia, diarahkan untuk membantu seseorang mengenali pola lama, membangun kepercayaan baru, serta menyelaraskan pikiran, emosi, tindakan, dan tujuan hidup.

Selain itu, Syam mendorong peserta mengubah orientasi ekonomi dari sekadar memperoleh penghasilan menjadi membangun aset, sistem, dan legacy. Ia merumuskan tujuh tahap transformasi, mulai dari pemulihan mental dan pola pikir, pembangunan identitas baru, peningkatan kompetensi, ekspansi jaringan, pembangunan bisnis, pembuatan aset, hingga pembangunan legacy.

Menurut Syam, masapurna tugas tidak semestinya dipandang sebagai berakhirnya produktivitas. Masa tersebut justru dapat menjadi peralihan medan pengabdian dengan memanfaatkan pengalaman nan telah diperoleh selama bertugas.

"Disiplin seorang ajudan dapat menjadi fondasi. Pengalaman menghadapi tekanan dapat menjadi ketangguhan. Kemampuan membaca situasi dapat berkembang menjadi business judgement. Jaringan dapat menjadi modal sosial. Sementara integritas menjadi fondasi kepercayaan ketika seseorang memasuki bumi upaya dan kepemimpinan," tutur Syam.

Ia menegaskan, perubahan pekerjaan tidak kudu menghilangkan karakter nan telah terbentuk selama masa pengabdian.

"Profesi boleh berubah, tetapi integritas, disiplin, dan karakter kudu tetap menjadi fondasi. Ketika pikiran bawah sadar diprogram untuk bertumbuh, kesadaran selaras dengan norma kehidupan, dan tindakan dijalankan secara konsisten, seseorang tidak hanya sukses membangun bisnis, tetapi juga membangun dirinya menjadi manusia nan bisa menciptakan nilai, membuka peluang, dan meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya," pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya