Perang AS-Iran Kembali Makan Korban Jepang

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengeluaran rumah tangga Jepang secara tak terduga merosot pada Juni 2026. Kondisi ini dipengaruhi aspek cuaca, sementara ketidakpastian akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran turut membayangi prospek konsumsi masyarakat.

Data Kementerian Dalam Negeri Jepang nan dirilis Jumat (7/8/2026) menunjukkan pengeluaran konsumen turun 3,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Penurunan tersebut menjadi nan ketujuh secara beruntun dan jauh di bawah proyeksi pasar nan memperkirakan pertumbuhan 1%.

Secara bulanan dan setelah disesuaikan dengan aspek musiman, pengeluaran rumah tangga apalagi ambruk 6,4%, lebih dalam dari perkiraan penurunan 3,1%. Seorang pejabat kementerian mengatakan angin besar topan dan peningkatan curah hujan menjadi aspek nan menekan shopping masyarakat pada Juni.

Di sisi lain, bentrok Iran menjadi ancaman baru bagi daya beli masyarakat Jepang. Sota Takano, ahli ekonomi senior Itochu Research Institute, mengatakan kenaikan biaya komoditas utama seperti pangan dan daya berpotensi menghalang konsumsi swasta, meski pemerintah memberikan subsidi.

"Jika situasi tiba-tiba membaik secara drastis, ceritanya bakal berbeda," ujar Takano, seperti dikutip Reuters.

Namun, dia memperkirakan ketidakpastian bakal terus berlangsung. Dalam kondisi tersebut, menurutnya, sentimen kemungkinan besar tidak bakal banyak membaik.

Tekanan terhadap konsumsi terjadi ketika kondisi pendapatan mulai menunjukkan perbaikan. Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan bayaran riil Jepang tumbuh 1,6% pada Juni dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi nan keenam secara berturut-turut.

Di tengah lemahnya konsumsi, porsi pendapatan rumah tangga nan dialokasikan untuk shopping juga terus menurun sejak akhir tahun lalu. Hal tersebut mengindikasikan masyarakat condong menyimpan lebih banyak pendapatan mereka sebagai tabungan.

Data konsumsi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank of Japan (BOJ) dalam menentukan kebijakan suku bunga, termasuk kemungkinan kenaikan paling sigap pada September. Namun, info Juni diperkirakan belum cukup kuat untuk secara signifikan mengubah keputusan bank sentral.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya