Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak nan lebih berbahaya. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepekan eskalasi perang, kedua negara mulai menyerang prasarana penting, memicu kekhawatiran perang meluas ke akomodasi sipil dan daya nan menopang area Teluk.
Militer AS pada Jumat (17/7/2026) melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang pembangkit listrik dan akomodasi desalinasi di Kuwait. Di saat nan sama, ketegangan di laut juga meningkat setelah kapal tanker kembali menjadi sasaran serangan dan jalur pelayaran utama daya bumi semakin terancam.
Di area Selat Hormuz, tempat bentrok telah memutus pasokan daya dari Teluk, Marinir AS menaiki sebuah kapal tanker di dekat selat tersebut. Sementara itu, dua kapal tanker minyak dilaporkan meledak dan terbakar setelah melintasi jalur nan dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz, menurut laporan media Iran nan mengutip Garda Revolusi Iran (IRGC).
Situasi di Laut Merah juga semakin memburuk. Kelompok bersenjata menyita sebuah kapal di lepas pantai Yaman, memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, ialah Bab el-Mandeb nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan Garda Revolusi nan menegaskan bahwa selama "agresi" Amerika Serikat belum dihentikan, ekspor daya dari area tidak bakal dapat berjalan.
"Sampai agresi Amerika Serikat berakhir, tidak bakal mungkin mengekspor pupuk kimia maupun apalagi 'setetes pun minyak dan gas' dari kawasan," demikian pernyataan Garda Revolusi nan disiarkan televisi pemerintah Iran, sebagaimana dilansir Reuters.
Washington dan Teheran terus menguji pemisah eskalasi sejak gencatan senjata nan mereka capai runtuh pekan lalu. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran perang berskala penuh bakal pecah.
Pasar daya langsung merespons perkembangan terbaru tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 3% pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Lonjakan nilai itu juga meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres pada November mendatang.
Trump sebelumnya telah menakut-nakuti bakal meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap prasarana Iran. Ia juga tidak menutup kemungkinan melakukan operasi darat di wilayah pesisir maupun pulau-pulau Iran.
Sejumlah pejabat AS mengatakan operasi militer di wilayah selatan Iran sebagian dirancang untuk memberikan lebih banyak opsi militer kepada Trump.
Namun, langkah tersebut berisiko memicu respons lebih keras dari Iran, baik melalui serangan terhadap prasarana vital negara-negara Teluk maupun melalui sekutunya di Yaman nan dapat mengganggu pasokan daya dunia lewat Laut Merah.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan Washington agar tidak terus meningkatkan eskalasi maupun mencoba merebut wilayah Iran.
"Jika serangan Amerika Serikat terus bersambung selama beberapa hari lagi, kami bakal memasuki fase operasi ofensif berskala penuh," kata Rezaei, seorang mantan komandan tertinggi Garda Revolusi Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan keprihatinannya atas eskalasi terbaru.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Guterres mengkhawatirkan peningkatan konflik, terutama lantaran sekarang telah menyasar akomodasi sipil. Dia prihatin terhadap eskalasi tersebut, khususnya "serangan terhadap prasarana sipil di Iran dan di seluruh kawasan," kata ahli bicaranya.
Sebelumnya, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan sasaran operasinya meliputi "infrastruktur logistik militer", pertama kalinya istilah prasarana digunakan dalam pernyataan resmi mereka dalam lebih dari sepekan terakhir.
Dalam serangan terbaru, CENTCOM menyatakan pihaknya kembali menggempur Iran untuk malam ketujuh berturut-turut, dimulai pukul 15.00 EDT alias sekitar pukul 22.30 waktu Teheran.
"Serangan-serangan ini dirancang untuk terus melemahkan keahlian militer Iran atas pengarahan Panglima Tertinggi," tulis CENTCOM melalui akun X.
Tak lama setelah itu, media Iran melaporkan ledakan terdengar alias serangan terjadi di Sirik, Ahvaz, dan Yazd.
Kantor buletin Mehr menyebut tidak ada korban jiwa akibat proyektil musuh di luar Kota Yazd, nan terletak sekitar 600 kilometer di selatan Teheran.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan negara itu menjadi sasaran serangan.
Sebanyak tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap jembatan di kota pelabuhan Bandar Khamir. Stasiun kereta api kota tersebut juga ikut terkena serangan.
Bandara di Iranshahr, wilayah nan berbatasan dengan Pakistan, juga dilaporkan menjadi sasaran.
Video nan telah diverifikasi Reuters memperlihatkan puing-puing, pagar pembatas nan hancur, kendaraan rusak di atas jembatan nan ambruk di Bandar Khamir, serta kobaran api di letak kejadian.
Sebagai balasan, Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah negara Teluk nan menjadi letak pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Iran juga mengeklaim menyerang sebuah kapal militer AS di bagian utara Samudra Hindia.
Garda Revolusi menyatakan mereka menyerang penyimpanan penyimpanan drone milik AS di Bahrain serta menghancurkan pusat kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) utama Bahrain menggunakan rudal balistik dan drone.
Sementara itu, Angkatan Laut Iran menembakkan rudal jelajah pantai-ke-laut ke arah kapal AS nan disebut sebagai kapal musuh di Samudra Hindia bagian utara.
Kantor buletin pemerintah IRNA melaporkan rudal tersebut memaksa kapal AS menjauh dari jangkauan Angkatan Laut Iran. Militer Iran mengatakan peluncuran rudal itu telah menimbulkan "ketakutan dan kepanikan" sehingga kapal tersebut mundur dari area operasi.
Adapun pemerintah Kuwait mengonfirmasi salah satu akomodasi pembangkit listrik dan desalinasi air laut negara itu terkena serangan Iran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan, kebakaran, dan gangguan terhadap sejumlah besar unit pembangkit listrik.
Negara-negara Arab Teluk sangat berjuntai pada akomodasi pembangkit listrik dan desalinasi untuk memasok air bersih bagi kota-kota mereka nan berada di wilayah gurun.
Serangan terhadap akomodasi desalinasi Kuwait pada 30 Maret lampau sebelumnya telah dipandang sebagai salah satu corak eskalasi terbesar dalam bentrok kawasan.
(luc/luc)
Addsource on Google

4 hari yang lalu
9







English (US) ·
Indonesian (ID) ·