Para sukarelawan memanfaatkan air surut nan sangat rendah untuk menyisir padang lamun guna mencari biji..(BBC)
DINI hari sekitar pukul 04.00 waktu setempat, puluhan sukarelawan telah berkumpul di Pantai Calshot dekat Southampton, Inggris. Ketika air laut di Selat Solent surut drastis, pantai tersebut menyingkap hamparan rumput laut nan menjadi angan para konservasionis untuk memulihkan ekosistem pesisir nan kian menyusut.
Tujuan utama para sukarelawan ini adalah memanen benih rumput laut (seagrass). Layaknya pepohonan di darat, rumput laut mempunyai keahlian luar biasa dalam menyerap karbon murni. Luas area rumput laut nan sama apalagi bisa menyerap karbon dioksida hingga 35 kali lebih banyak dibandingkan rimba hujan tropis, sekaligus menguncinya dan melepaskan oksigen kembali ke lingkungan. Selain itu, padang lamun ini menyediakan kediaman krusial bagi ribuan jenis laut.
Inggris tercatat telah kehilangan lebih dari 90 persen padang rumput lautnya selama satu abad terakhir akibat serangan penyakit, aktivitas manusia, dan polusi. Dasar laut nan dulunya hijau dan hidup sekarang banyak nan rusak dan gundul.
Aksi pencarian bibit ini dipimpin oleh Tim Ferrero dari Hampshire and Isle of Wight Wildlife Trust. Dengan membawa ember plastik putih, para sukarelawan menyisir area pantai untuk memetik bagian tanaman nan tepat.
"Rumput laut adalah satu-satunya tumbuhan berbunga di laut," ujar Ferrero saat menyusuri padang rumput laut. "Mereka melakukan semua nan dilakukan tumbuhan darat: berbunga, menyerbuk, dan memproduksi bibit di dalam air. Jadi, nan kami lakukan adalah mengumpulkan bibit dari padang rumput laut nan ada untuk ditanam di tempat lain guna membangun kembali padang rumput laut."
Memetik bibit memerlukan ketelitian. Bagian kelopak berbentuk polong nan dipetik sedikit lebih bulat dan pucat dibandingkan helai rumput laut nan datar.
"Kadang-kadang kita hanya perlu meraba-raba dan merasakan batang pendek nan terasa seperti berisi sebungkus permen Tic Tac," kata seorang sukarelawan, Sophie Whitemoor.
Sementara itu, sukarelawan lainnya, James Harper, terus mengasah tekniknya. "Ini hanya masalah mencari batang nan paling bulat," tuturnya.
Meski kudu berpacu dengan waktu sebelum air laut kembali pasang, semangat para sukarelawan tidak surut. Sukarelawan berjulukan Jackie Mellan mengungkapkan dorongannya, "Ini murni dorongan passion bagi saya. Setiap ada kesempatan untuk keluar dan membantu proyek restorasi, saya pasti ikut."
Ember-ember nan terisi bibit kemudian dibawa ke Institute of Marine Sciences University of Portsmouth di Eastney. Benih-benih tersebut dimasukkan ke dalam tangki air laut besar untuk menjalani proses pembusukan alami (rotting out) selama 8 hingga 12 minggu agar biji terlepas dari batangnya.
Setelah terpisah, bibit bakal disimpan dalam tangki air bersalinitas tinggi dengan suhu dingin 1 hingga 3 derajat Celsius selama musim dingin. Ketika musim semi tiba, para sukarelawan siap kembali menyebar benih-benih berbobot tersebut ke laut. (BBC/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·