Yayasan Pribadi Kamila berinovasi mengembangkan program Waste Education Center (WEC) di TK, SD, SMP dan SMA..(MI/BENNY BASTIANDY)
YAYASAN Pribadi Kamila merupakan penyelenggara pendidikan TKIT Annisa, SD Islam Cendekia, SMP Islam Cendekia, dan SMA PU Al-Bayan Cendekia di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Sekolah ini mengembangkan program Waste Education Center (WEC). Program nan sudah melangkah nyaris dua tahun tersebut disebut-sebut sebagai nan pertama dilakukan di lingkungan sekolah di Indonesia.
WEC merupakan pusat aktivitas edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan mendorong tindakan nyata untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Ada empat pilar kegiatannya ialah mengurangi volume sampah, mengelola sampah, memanfaatkan hasil pengelolaan sampah, dan dakwah lingkungan.
Empat pilar tersebut direalisasikan melalui pembelajaran terjadwal, penyuluhan terpola, pelatihan, dan kampanye lingkungan.
Kepala Waste Education Center, Deni Rohimat, mengatakan pembentukan WEC Sekolah Islam Cendikia didasari pertimbangan terjadinya krisis lingkungan nan diakibatkan sampah. Setidaknya ada dua tantangan pokok menghadapi kondisi itu, ialah pemulihan lingkungan dan pembentukan generasi masa depan nan bisa lebih peduli terhadap lingkungan.
"Kami memandang perlu datang menjadi bagian dari solusi dengan membentuk Waste Education Center Sekolah Islam Cendekia nan sudah eksis sejak 5 Juni 2024," kata Deni, Sabtu (29/8).
Dia menuturkan, tujuan dibentuknya WEC Sekolah Islam Cendikia di antaranya meminimalkan kontribusi pembuangan sampah di lingkungan Kabupaten Cianjur. Sekaligus juga menyiapkan generasi nan peduli lingkungan sejak dini.
Membangun kesadaran dan kepedulian lingkungan memang tidak mudah. Diperlukan peran semua pihak, sehingga pihak yayasan melibatkan seluruh tenaga kerja dan anak didik dari semua jenjang agar tujuan dari program itu bisa terwujud.
Informasi ini juga diperkuat oleh penyataan Direktur Operasional di Yayasan tersebut, Rita Yulianti.
"Kami melibatkan semua civitas lembaga dan integrasi kurikulum pada jenjang TK, SD, SMP, dan SMA," tegasnya.
Rita memandang, lembaga pendidikan mempunyai peran strategis pada persoalan sampah. Sebab, perihal itu berangkaian dengan perilaku lalai aktivitas manusia.
Berdasarkan info nan terhimpun dari beragam sumber, di Indonesia hingga Juli 2024 tercatat 36,7% sampah belum terkelola dengan baik. Kondisi itu berangkaian dengan tetap rendahnya kesadaran masyarakat mengelola sampah.
Di Jawa Barat, produksi sampah tetap tinggi nan mencapai 13,41 ribu ton per hari. Pun di Kabupaten Cianjur, tetap ditemukan penduduk nan membuang sampah ke sungai sehingga pemerintah wilayah setempat menerapkan hukuman sosial.
Penanganan krisis sampah adalah tanggung jawab bersama, tanpa terkecuali. Termasuk di dalamnya lembaga pendidikan sebagai entitas nan juga berkontribusi dalam produksi sampah secara signifikan.
Di tingkat TK-SMA misalnya, info Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, Indonesia mempunyai 303.445 lembaga pendidikan. Belum lagi sekolah berasrama dan pesantren nan tentunya mempunyai tingkat produksi sampah lebih tinggi.
Terdapat 42.369 pondok pesantren dengan 6.274.307 santri di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.005 pondok pesantren dengan jumlah sebanyak 646.143 santri berada di Jawa Barat.
Jika setiap orang nan tinggal di pesantren memproduksi sampah 0,68 kg per hari dengan komposisi 60% organik dan 40% anorganik, maka dari kalangan santri saja, di Jawa Barat, bisa memicu timbulan sekitar 439,37 ton sampah per hari dengan komposisi sampah organik 263,62 ton dan sampah anorganik 175,75 ton.
"Pendidikan lingkungan di kami memang menjadi bagian dari kurikulum unik dalam corak komitmen mutu lembaga. Kami berani dengan perihal itu, lantaran rumor lingkungan adalah tantangan serius kita bersama," kata Direktur Pendidikan Yayasan Pribadi Kamila Cianjur, Dr. Dindin Alawi, S.Si., M.Pd.
"Kami sadar bahwa pendidikan lingkungan itu sangat krusial serta perlu diterapkan sejak dini, komprehensif, dan berkelanjutan," timpal Ketua Yayasan Pribadi Kamila Cianjur Drs H Lucky Hermawan.
PESAN AGAMA
"Perintah Islam untuk menjaga lingkungan dari kerusakan itu jelas. Itu sebabnya Yayasan selalu mempunyai perhatian atas perihal itu," kata Pengawas Yayasan, KH Ghazali Rahman, S.Pd.I.
"Al Quran dan Sains tidak bisa dipisahkan. Keduanya sangat harmonis, termasuk pesan-pesannya dalam menjaga kelestarian lingkungan," terang Pembina Yayasan Ir. Runjai Wangsa Laksana, M.Pd.
IMPLEMENTASI
Implementasi program kerja WEC dilakukan secara bervariasi sesuai dengan karakter setiap jenjang sekolah. Di unit TK, penerapan program WEC dilakukan melalui edukasi membuang sampah pada tempatnya sesuai kategori, menyanyi dan bertepuk sampah nan kami kembangkan sendiri, serta menyiram tanaman.
"Semua itu dilakukan secara berulang dan melibatkan semua penduduk sekolah dalam rangka pembiasaan nan berarti dan berkelanjutan," kata Kepala TKIT Annisa Lia Khumairoh Z., S.Pd.
Di unit SD, penerapan dilakukan melalui aktivitas sosialisasi setiap jam rehat dan setelah salat duha.
"Termasuk penayangan video mengenai pengelolaan sampah serta aktivitas menyiram tanaman," kata Kepala SD Islam Cendekia, Ryzki Armansyah, S.Pd.
Di unit SMP, penerapan program WEC dilakukan melalui giat Pot Unggulan Sayur Andalan Karya Anak Cendekia (Pusaka) setiap pekan selama 3 bulan. Kemudian monitoring harian pengelolaan sampah sebagai bagian dari akibat nan direncanakan.
"Pusaka bukan sekadar komoditas tanaman, tapi entitas produktivitas penduduk sekolah dalam mengelola sampah secara ramah lingkungan dan berkelanjutan," sebut Kepala SMP Islam Cendekia, Nisrina Meta Gamanik, S.Pd.
Di unit SMA, semua penduduk sekolah dilibatkan. Implementasi dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan nan berkelanjutan, berbasis praktik nyata, refleksi, kolaborasi, serta terintegrasi dengan pembelajaran dan budaya sekolah.
Kegiatan rutin diwujudkan melalui Selasa Berseka dan Jumat Bersih dengan pembiasaan memilah sampah plastik, kertas, kaca, dan organik setiap hari di kelas. Sampah nan terkumpul ditimbang dan diolah lebih lanjut dua kali dalam sepekan, disertai aktivitas kerja hormat lingkungan nan melibatkan murid.
Sampah organik dimanfaatkan sebagai sumber belajar melalui aktivitas project learning (kolam lele, hidroponik, aquaponik, dab air lindi). Sampah anorganik dikelola melalui praktik pembuatan ecobrick, paving block, dan insulator dengan menjungjung tinggi standar keamanan pada setiap prosesnya.
SMA mempunyai golongan Duta Lingkungan nan beranggotakan perwakilan siswa setiap kelas nan dibimbing dua orang pembimbing pembina dan kepala WEC. Perannya mengenai lingkungan sangat signifikan.
Tidak terbatas pada pengelolaan sampah, Duta Lingkungan juga mempunyai progam Botanika, mengenalkan nama dan kebenaran menarik setiap tanaman kepada semua penduduk sekolah dalam rangka menumbuhkan kepedulian dan membiasakan hidup selaras dengan lingkungan.
"Saya memandang sampah bukan sebagai masalah, tapi sumber penemuan bagi penduduk sekolah," kata Kepala SMA PU Al Bayan Cendekia, Ruddy Herdriawan, ST., MM.
DAMPAK PROGRAM WEC
Implementasi berjenjang program kerja Waste Education Center berakibat positif bagi lingkungan dan penduduk sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pribadi Kamila Cianjur. Terutama volume sampah nan menurun.
Hampir 100% sampah organik bisa didaur ulang dan dimanfaatkan di lingkungan sekolah. Sebagian besar sampah plastik bisa dikelola dan buangan sampah ke luar lingkungan menurun drastis.
Selain itu, kepedulian penduduk sekolah mengenai lingkungan pun condong meningkat. Mulai terbentuk tren low-waste life style, keahlian siswa dalam mengelola sampah meningkat, dan menstimulasi kesukaan pihak eskternal untuk melakukan aktivitas peduli lingkungan.
Tren penurunan produksi sampah berbanding lurus dengan edukasi sampah (waste education) melalui kampanye lingkungan.
"Menekan produksi sampah tidak mudah. Semua penduduk perlu selalu diingatkan. Bahkan orang-orang dewasa, dalam perihal sampah mereka sama seperti anak kecil, perlu selalu diingatkan," tegas Manajer General Affair, Asyraf, SH.
Selain membawa akibat positif, aktivitas peduli lingkungan melalui Waste Education Center juga mendapat kesan positif dari para siswa dan komite sekolah sebagai perwakilan orangtua.
"Seru, lantaran saya jadi tahu kudu buang sampah ke mana. Aku paling suka menyiram tanaman pakai semprotan lantaran biar tanamannya jadi segar, gak layu," kata siswa Kelas B1, Mahesa Fransisca.
Hasby, siswa kelas 5B SD Islam Cendekia mengaku senang bisa belajar di WEC. Banyak pengetahuan nan bisa didapatkan. Salah satunya membikin pot kembang dari botol bekas.
"Senang banget ikut kegiatan-kegiatan Waste Education Center. Saya bisa belajar langsung langkah mengelola sampah dan menjaga lingkungan. Ternyata menjaga alam itu seru dan banyak perihal nan bisa dipelajari," tambah siswa lain, Irdina Putri Afiqah, siswa kelas 8D SMP Islam Cendekia.
Sementara itu, Daffa, siswa kelas XI-1, mengaku senang dan bangga dapat terlibat langsung pada program Waste Education Center SMA PU Al Bayan Cendekia. Terlebih dia dipercaya menjadi bagian dari Duta Lingkungan.
Baginya, program WEC lebih dari sekadar belajar menjaga kebersihan lingkungan. Dia mendapatkan pengalaman baru memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah sehingga berbobot guna.
"Saya dan teman-teman menjadi lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menjadi Duta Lingkungan juga membikin kami merasa mempunyai peran untuk membujuk teman-teman membangun kebiasaan nan lebih baik dalam mengelola sampah. Kami bangga lantaran ikut berkontribusi menciptakan lingkungan sekolah dan pesantren nan lebih bersih, asri, nyaman, serta menjadi bagian dari perubahan menuju budaya Zero Waste," tegasnya.
Para orangtua siswa juga mengapresiasi dan mendukung penuh penyelenggaraan program Waste Education Center nan teragendakan pada aktivitas belajar murid. Bahkan terintegrasi pada kurikulum nan dikembangkan yayasan.
"Saya memandang para siswa sangat antusias mengikuti proses pemilahan sampah, daur ulang sederhana, hingga pembiasaan membuang sampah pada tempatnya nan dikemas secara menarik oleh para guru," kata Ketua Komite TKIT Annisa, Intan Herawati, S.Keb,. Bdn.
Kegiatan tersebut tidak hanya membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama.
"Kami sepakat bahwa pendidikan lingkungan merupakan bagian krusial dalam membentuk generasi nan beradab mulia dan peduli terhadap kelestarian bumi," terangnya.
Sementara itu, Ketua Komite SD Islam Cendekia, Wini Noviany melihat memandang adanya perubahan prilaku anak terhadap sampah, mulai belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta lebih peduli terhadap kesadaran menjaga lingkungan.
"Alhamdulillah anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti program Waste Education Center. Kegiatan-kegiatannya sangat positif dalam membangun kepedulian lingkungan sejak awal dan melatih kebiasaan baik pada murid," terang Ketua Komite SMP Islam Cendekia, Isma Masrofah.
"Inilah semangat nan kami lihat dan kami sorong di SMA PU Al Bayan Cendekia melalui Waste Education Center dan aktivitas Zero Waste. Edukasi ini tidak hanya mengajarkan gimana mengelola sampah, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap perseorangan mempunyai tanggung jawab untuk mengurangi sampah nan dihasilkan sejak dari sumbernya. Semoga langkah mini nan dilakukan SMA PU Al Bayan Cendekia ini dapat menjadi bagian dari solusi nan lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan. Dari sekolah kita bergerak, dari family kita membiasakan, dan dari hari ini kita mulai. Zero Waste bukan sekadar cita-cita, tetapi tanggung jawab kita bersama," tutur Ketua Komite SMA PU Al Bayan Cendekia, Sulkifly Baro.
Dr. Dera Nugraha, seorang pegiat pendidikan nan juga turut berkontribusi dalam pembentukan Waste Education Center Sekolah Islam Cendekia mempunyai optimisme atas program lingkungan ini.
Menurutnya, WEC memang belum bisa mengatasi waste crisis (krisis sampah) di Kabupaten Cianjur, apalagi di Jawa Barat. Namun dalam perihal kontribusi memperbaiki lingkungan dan mempersiapkan generasi masa depan nan lebih peduli lingkungan; motivasinya, program kerjanya nan realistis, serta dampaknya nan nyata, dapat direplikasi di tempat-tempat lain sesuai dengan konteksnya.
"Terlebih bagi lembaga-lembaga pendidikan serupa di Indonesia, untuk pemulihan dan masa depan lingkungan nan lebih baik," kata Dera.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·