ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menargetkan pengeboran sumur appraisal alias penilaian pertama untuk migas non konvensional (MNK) pada Desember 2026 mendatang. Hal itu dilakukan untuk menindaklanjuti temuan persediaan 'bukan minyak biasa' nan sukses diidentifikasi perusahaan.
Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menjelaskan bahwa tahapan appraisal tersebut bermaksud untuk memvalidasi serta menghitung kembali volume persediaan nan dapat diangkat menjadi produksi nasional.
Ia menyebut perusahaan saat ini tengah memfinalisasi kesepakatan perjanjian bagi hasil (KBH) baru dengan pemerintah untuk menjamin kepastian operasional di lapangan.
"Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah kelak di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal nan pertama," ungkapnya dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Selasa (14/7/2026).
Rencana pengeboran itu merupakan kelanjutan dari kesuksesan dua sumur eksplorasi MNK, ialah Gulamo dan Kelok, nan menemukan sumber daya kategori 2C sebesar 740 juta barel setara minyak.
Jika proses penilaian tersebut membuahkan hasil nan sesuai, Pertamina berencana memperluas cakupan proyek dengan mengebor 8 sumur tambahan sebagai percontohan teknologi di tahun depan.
"Insya Allah jika kelak sukses kita lakukan lagi pengeboran 8 sumur di tahun depan. Delapan sumur sebagai sumur demonstrasi. Nah sumur demonstrasi ini untuk membuktikan bahwa teknologi nan insya Allah kelak kita bakal terapkan itu memang efektif," paparnya.
Pengembangan MNK sendiri mempunyai tingkat kesulitan nan lebih tinggi lantaran karakter minyak nan terjebak di dalam batuan sehingga susah untuk diangkat. Perusahaan kudu menerapkan teknologi multi-stage fracturing serta pengeboran terarah guna merekah batuan agar minyak nan berkarakter lengket tersebut dapat diproduksikan ke permukaan.
"Jauh berbeda dengan nan reservoir saat ini kita produksikan. Kenapa lantaran memang secara petroleum sistem lapangan MNK itu minyaknya terjebak di dalam batuan nan cukup susah untuk kita angkat. Kita kudu menerapkan teknologi nan biasa kita sebut multi-stage fracturing gitu," jelasnya.
Dengan begitu, perusahaan terus berupaya membangun ekosistem pendukung untuk MNK di Indonesia dengan merujuk pada kesuksesan pengembangan di Amerika Serikat dan China.
(wia)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·