Petaka Eropa Menggila,"Negeri di Bawah Laut" Terancam Krisis Air

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas dan kekeringan nan melanda Eropa memicu krisis air di sejumlah negara. Belanda, nan selama ini dikenal sebagai negara dengan sistem pengelolaan air terbaik di dunia, sekarang justru menghadapi masalah sebaliknya, ialah kekurangan air akibat minimnya curah hujan dan menyusutnya debit sungai.

"Karena kekeringan nan terus-menerus, semakin sedikit air nan masuk ke negara kita melalui hujan dan sungai, sementara permintaan air meningkat," kata Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda saat mengumumkan status kekurangan air resmi Level 2, seperti dikutip CNN International, Rabu (22/7/2026). Pemerintah menegaskan pasokan air minum tetap aman, tetapi masyarakat diminta menggunakan air secara bijak.

Sebagai respons, pemerintah berbareng perusahaan penyedia air bakal mengevaluasi langkah penghematan, termasuk membatasi pengambilan air tanah dan mengurangi gelombang pembukaan pintu air untuk mencegah intrusi air laut ke wilayah daratan.

Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan oleh Hannah Cloke, Profesor Meteorologi dan Ilmu Iklim Regius di Universitas Reading, Inggris. Menurutnya, waktu terjadinya krisis menjadi sirine terbesar lantaran Belanda sudah mengalami kekurangan air sejak pertengahan Juli, padahal musim panas tetap panjang.

"Masih banyak musim panas nan tersisa dan prakiraan cuaca menunjukkan nyaris tidak ada angan datangnya hujan dalam beberapa pekan ke depan," ujarnya.

Cloke menegaskan kondisi ini bukan sekadar kejadian alam biasa. "Ini bukan nasib buruk. Panas mengeringkan tanah, mengosongkan sungai, dan meningkatkan permintaan air secara bersamaan. Ini adalah sidik jari perubahan iklim," katanya.

Belanda nan selama ini identik dengan banjir sekarang kudu beradaptasi dengan ancaman kekeringan. Ahli hidrometeorologi Deltares, Jan Verkade, apalagi menyebut situasi tersebut sebagai perubahan besar.

"Kekeringan adalah banjir nan baru," ujarnya.

Saat ini, Sungai Rhine dan Meuse di Belanda mencatat suhu air sekitar 25 derajat Celcius. Kondisi itu memicu penyebaran alga biru-hijau, kematian ikan, serta meningkatkan akibat masuknya air laut ke sungai akibat permukaan air nan terus menurun.

Juru bicara Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda memperingatkan bahwa situasi dapat memburuk andaikan cuaca panas dan minim hujan terus berlanjut.

"Kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan terjadinya kekurangan air nan lebih serius. Jika kondisi ini bersambung hingga September, pilihan nan lebih berat mungkin kudu diambil," katanya.

Dampak kekeringan juga dirasakan di beragam negara Eropa. Sungai Rhine di Jerman mengalami penyusutan sehingga kapal-kapal kargo kudu mengurangi muatan dan membaginya ke beberapa kapal lain, nan berujung pada kenaikan biaya logistik. Pada Juli, sebuah kapal pesiar apalagi sempat kandas di Sungai Rhine dekat Bonn sebelum akhirnya sukses ditarik ke perairan nan lebih dalam beberapa jam kemudian.

Di Hungaria, kapal pesiar di Sungai Danube juga sempat terdampar akibat rendahnya permukaan air, sementara di Rumania, Danube mencapai level terendah dalam tiga dasawarsa sehingga mengganggu aktivitas pelayaran dan memaksa pembatasan irigasi.

Para intelektual memperingatkan kondisi ini berpotensi menjadi pola baru di Eropa. Ahli pengelolaan kekeringan Deltares, Marjolein Mens, mengatakan situasi nan terjadi saat ini sebenarnya baru diperkirakan muncul sekitar tahun 2050.

"Tahun ini menjadi peringatan lagi. Kondisi nan kami prediksi terjadi pada 2050 tampaknya datang jauh lebih sigap dan sangat sesuai dengan skenario terburuk perubahan iklim," ujarnya. Cloke menambahkan, "Musim panas seperti ini bakal menjadi perihal nan semakin normal dan bakal terus memburuk selama bumi tetap membakar bahan bakar fosil."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya