Pimpinan MPR Buka-Bukaan Soal Rantai Suplai BBM RI

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa rantai suplai bahan bakar minyak (BBM) saat ini tetap dibayangi kendala. Hal ini mengingat bentrok geopolitik nan tetap memanas.

Apalagi sekarang, produksi BBM Indonesia tetap mempunyai ketergantungan dari pasokan luar negeri.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno memetakan beberapa kerentanan sektor daya Indonesia di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Dia menyebutkan, gangguan pada jalur pengedaran dunia berakibat juga kesiapan stok BBM untuk kebutuhan masyarakat dan industri nasional.

"Kemudian nan terakhir adalah disrupsi energy, disrupsi supply chain nan kita rasakan hari ini. Akibat adanya dinamika geopolitik di Timur Tengah," katanya dalam aktivitas Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya saat ini Indonesia mengimpor sekitar 20% kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah, namun ketergantungan terbesar terletak pada produk BBM. Dia mencatat, sebanyak 70% pasokan BBM nasional didatangkan dari Singapura dan Malaysia, sehingga hambatan nan terjadi pada negara pemasok tersebut berkapak langsung pada kesiapan stok dalam negeri.

"Artinya apa? Ketika Singapura dan Malaysia terkendala untuk membeli krudnya dari Timur Tengah, tentu kita juga terkendala untuk menerima supply dari BBM kita," imbuhnya.

Volume kebutuhan BBM di Tanah Air tergolong sangat tinggi dengan permintaan Pertalite mencapai 33-34 juta kiloliter (kl) per tahun. Sementara itu, kebutuhan Solar berada di kisaran 19 juta kl per tahun, meskipun volumenya mulai terbantu oleh penerapan campuran bahan bakar nabati.

"Hari ini Pertalite kita kurang lebih 33-34 juta kl. Kemudian juga solar kita kurang lebih kebutuhannya 19 juta kl dan itu besar sekali," tambahnya.

Menurutnya, ketimpangan antara kapabilitas produksi dan konsumsi harian menjadi pemicu utama tekanan pada kesiapan BBM dalam negeri. Indonesia saat ini hanya bisa memproduksi minyak sekitar 600 ribu barel per hari (bph), padahal kebutuhan total untuk menggerakkan mobilitas ekonomi mencapai 1,6 juta bph.

"Hari ini dari segi ketahanan energi, kita tetap menggantungkan angan pada impor. Untuk menggerakkan mobilitas ekonomi kita secara keseluruhan," tegasnya.

Dengan begitu, Eddy memperingatkan gangguan rantai pasok minyak mentah bumi diperkirakan tidak hanya berakibat pada sektor energi, namun juga bisa memicu kenaikan nilai komoditas turunan hidrokarbon lainnya seperti pupuk hingga obat-obatan.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya