Jakarta, CNBC Indonesia - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyoroti kejadian migrasi konsumen bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite. Pergeseran konsumen tersebut dinilai akibat disparitas nilai jual nan sangat tinggi.
Mengingat, nilai jual BBM non subsidi mengikuti nilai pasar nan bertindak saat ini. Sedangkan untuk BBM subsidi tetap dibantu oleh anggaran negara agar menjaga daya beli masyarakat.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa pergeseran konsumsi tersebut mengakibatkan penyaluran di tingkat SPBU meningkat drastis. Ia memandang antrean kendaraan mulai muncul di beragam wilayah sebagai akibat langsung dari lonjakan permintaan BBM subsidi tersebut.
"Hari ini jika kita lihat terjadi migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite lantaran disparitas nilai nan signifikan. Oleh lantaran itu Pak Taufiq (Direktur Utama Pertamina Patra Niaga) dan teman-teman agak pontang-panting kerjanya, kerjanya luar biasa sekarang. Dan terjadi antrian di beberapa SPBU nan kita bisa saksikan," katanya dalam Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).
Dalam catatannya, lonjakan nilai minyak mentah bumi jenis Brent nan sekarang menyentuh nomor US$ 96 per barel menjadi aspek utama pemicu penyesuaian nilai pada produk BBM non subsidi Pertamax series. Konflik geopolitik di Timur Tengah nan belum stabil diperkirakan bakal terus mendorong nilai minyak bumi hingga menembus nomor triple digit.
"Hari ini Brent harganya sudah 96 dolar lagi. Jadi kita sudah menuju triple digit untuk nilai minyak mentah ke depannya. Memang kita tidak bisa tahan juga ketika nilai minyak mentah melonjak tinggi sehingga mengakibatkan Pertamax kemudian terpaksa disesuaikan," imbuhnya.
Selisih nilai antara BBM subsidi dan non subsidi saat ini dinilai sangat kontras, di mana Pertalite tetap dipatok pemerintah sebesar Rp 10.000 per liter. Padahal, nilai keekonomian alias nilai original dari produk Pertalite tersebut sudah menyentuh nomor Rp 16.100 per liter berasas kalkulasi pasar.
"Kita beli Pertalite Rp 10.000 di mana pun Rp 10.000. Berapa nilai keekonomiannya? Rp 16.100 (per liter). Jadi bisa dibayangkan," tandasnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·