Prabowo Targetkan 100 GW PLTS, Ada yang Dibangun di Bali

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pihaknya tetap menunggu agenda Presiden Prabowo Subianto untuk meresmikan pembangunan alias groundbreaking tahap pertama program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt (GW).

Menurut dia, pemerintah telah menyusun masterplan pengembangan PLTS 100 GW secara bertahap. Adapun, untuk seremoni peletakan batu pertama tahap awal, Bali menjadi salah satu letak nan dipertimbangkan.

"Nanti saya lagi usahakan meminta agenda Bapak Presiden untuk kita peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 Giga Watt tahap pertama. Kan kita buat masterplan dengan perencanaan. Mungkin kita bakal buat di Bali," kata Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, dikutip Rabu (5/8/2026).

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan kapabilitas PLTS 100 GW telah tercantum dalam revisi RUPTL.

"100 GW sudah masuk (revisi RUPTL), peak loh ya, 100 GWp," kata Tri.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mempercepat langkah transisi ke daya hijau salah satunya dengan sasaran pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kapabilitas raksasa. Dia menargetkan Indonesia bisa mencapai kapabilitas terpasang hingga 100 Giga Watt (GW) setidaknya pada 2029 mendatang.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah bakal memaksimalkan pemanfaatan listrik dari daya surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

"Kami mau bergerak sangat sigap untuk menggunakan listrik dari daya surya. Kami mempunyai rencana dan kami berkeinginan untuk melangkah secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami mau mencapai 100 Giga Watt daya surya," ujar Prabowo dalam aktivitas Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).

Rencana percepatan pembangunan PLTS tersebut dinilai mendesak untuk direalisasikan. Menurutnya, eskalasi bentrok dan ketidakpastian geopolitik nan terus berkembang, khususnya di area Timur Tengah menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan daya nasional.

"Bagi kami, perihal ini lebih mendesak lantaran situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan daya kami," tegas Prabowo.

Sebagai antisipasi, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Selain tenaga surya, Indonesia juga mempunyai potensi besar di sektor panas bumi serta tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel 50% (B50) dan bioetanol.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya