Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto memastikan kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis bakal mulai diterapkan secara penuh pada 1 September 2026.
Menurut Prabowo, kebijakan tersebut saat ini tetap berada dalam tahap transisi setelah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) resmi beraksi sejak 1 Juli 2026.
"Di depan DPR waktu itu kita umumkan 20 Mei 2026, 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional kita, kita dirikan PT DSI mulai beraksi penuh pada 1 Juli, sebagai instrumen negara untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis. Kita bangun sistem ekspor 1 pintu agar mengetahui berapa nan diekspor kepada siapa, berapa devisa nan kembali di Indonesia," ungkap Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan, pembentukan sistem ekspor satu pintu merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki tata kelola ekspor, sekaligus menutup celah praktik under invoicing.
Meski di awal sempat mendapat kritik, dia mengatakan kebijakan tersebut sekarang mulai mendapat pengakuan dari beragam pihak di luar negeri sebagai langkah nan tepat dalam memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas.
"Ya biasa pertama ada nan nyinyir dan sebagainya tapi rupanya bumi luar mengakui bahwa ini adalah langkah Indonesia nan benar," kata Prabowo.
"Dengan ekspor sumber daya alam satu pintu, kita mengadakan tahap transisi, dan kita harapkan kelak 1 September 2026 penerapan penuh, kemudian proses ini semua bakal membikin kita bener-bener mengerti bener ke mana duit kita," tuturnya.
"Sebagai contoh kelapa sawit banyak dijual di Indonesia resmi perjanjian harganya Rp 17.000 CPO ya, per 17 ribu rupiah. Rp 15.000 per kilo, padahal nilai di internasional di Eropa Rotterdam itu Rp 27.000, nilai sebenarnya Rp 27.000, siapa nan nikmati Rp 17.000, nyaris 50%. Jadi permainan seperti ini nan menusuk hati kita," tuturnya.
"Jadi perusahaan dari Indonesia dia ekspor, begitu di sini dia jual Rp 14.000 (per kg), dalam perjalanan ke Eropa, konon kabarnya berubah-ubah lagi dealnya, sehingga di sana Rp 27.000, jadi kita lenyap 50% kekayaan kita satu kali perjalanan kita lenyap 50% kekayaan kita, jadi kita tegakkan," tuturnya.
"Terima kasih, saya dapat laporan dari Saudara Rosan, CEO Danantara, bahwa baru 1 bulan 2 minggu bekerja PT DSI beroperasi, PT DSI sudah mengelola devisa sebesar lebih 10,5 miliar dolar," paparnya.
"Dan rupanya dari nomor nan masuk sebelum ada PT DIS, gap perbedaan nilai jual di Indonesia dan internasional itu kurang lebih beda minimal 30% mendekati 40-45%, begitu ada PT DSI udah nyaris menyatu saya lihat grafiknya lantaran kita tegas. Meneruskan praktik ini penipuan, semua izin kita cabut, saya tidak pandang bulu, kita cabut semua izin mereka nan tidak mau alim norma di NKRI," tuturnya.
(ven/wia)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
8







English (US) ·
Indonesian (ID) ·