Providentia Dei

5 hari yang lalu 9
Providentia Dei Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

HIDUP adalah sebuah perjalanan nan digariskan Ilahi, providentia Dei. Kalau Dia berkehendak, pasti terjadi. Termasuk pertemuan antara Lionel Messi dan Lamine Yamal di final Piala Dunia 2026, Minggu mendatang waktu Amerika Serikat.

Sekitar 20 tahun lalu, Unicef melakukan kerjasama dengan klub sepak bola Barcelona. Salah satu kegiatannya, pemain Barcelona melakukan hormat sosial memandikan bayi.

Lionel Messi sebagai salah satu pemain Barca kudu ikut aktivitas itu. Usia Messi pada 2007 itu 20 tahun dan semua orang mulai memperhatikan munculnya calon bintang baru Barcelona menggantikan maestro Ronaldinho.

Ketika pengambilan foto dilakukan, Messi mendapatkan tugas memandikan bayi berumur lima bulan. Ternyata bayi itu 19 tahun kemudian tumbuh dewasa dan menjadi pemain sepak bola. Bahkan bukan hanya itu, bayi nan berjulukan Lamine Yamal menjadi bintang sepak bola nan bercahaya terang seperti Messi. Ia pun sekarang menggantikan Messi sebagai bintang baru Barcelona.

Dua tahun lampau di Jerman, Yamal menunjukkan kehebatannya sebagai pengganti Messi. Pada usia 17 tahun dia tampil luar biasa untuk membawa Spanyol menjadi juara Eropa dengan mempersembahkan satu gol bagus di final untuk mengalahkan Inggris 2-1.

Perjalanan hidup pun berlanjut. Yamal dan Messi tidak lagi berjumpa di bak mandi bayi. Mereka bakal berhadapan memihak negara masing-masing untuk mengukuhkan siapa nan bakal menjadi juara dunia.

Bagi Messi, pertandingan Minggu malam bakal menjadi perjalanan terakhirnya sebagai pemain sepak bola. Sebaliknya bagi Yamal, itu bakal menjadi awal perjalanan mencapai puncak kejayaannya.

Messi nan sempat frustrasi tidak bisa mempersembahkan gelar juara bumi bagi Argentina sekarang berkesempatan untuk melakukan nan kedua kalinya. Ia menapaki jalan legenda Diego Armando Maradona nan dua kali berturut-turut membawa 'Albiceleste' tampil di final Piala Dunia. Maradona melakukan di arena Piala Dunia 1986 dan 1990, Messi mengukir namanya di arena Piala Dunia 2022 dan 2026.

Maradona mengakhirinya dengan kepahitan lantaran di final nan kedua dipaksa menyerah oleh Jerman (Barat) 0-1 melalui tendangan penalti Andreas Brehme. Kita tidak tahu apa nan digariskan Tuhan kepada Messi. Apakah dia bakal bernasib seperti Pele nan bisa membawa Brasil dua kali berturut-turut memenangi Piala Dunia 1958 dan 1962? Ataukah seperti Maradona nan dua kali tampil di final, tetapi hanya sekali menjadi juara.

Perjuangan nan tidak mudah lantaran Yamal dan Spanyol nan bakal dia hadapi bukan hanya negara nan membesarkan dirinya sebagai mahabintang sepak bola, melainkan juga tim luar biasa solid. Tim nan diasuh Luis de la Fuenta sudah dibangun sejak Piala Eropa 2022 sehingga kohesivitas timnya sangat kuat.

Perjalanan Spanyol menuju final menunjukkan kualitas 'La Furia Roja'. Setelah sempat ditahan Tanjung Verde (Tanjung Hijau) di pertandingan pertama, diagram permainan mereka terus meningkat. Sejak 32 besar, musuh nan mereka singkirkan semua kelas berat, mulai Portugal, Belgia, hingga terakhir Prancis.

Bisa jadi Tuhan menuliskan cerita manis-Nya untuk Yamal. Anak nan 13 Juli lampau merayakan ulang tahunnya nan ke-19 itu digariskan mempunyai talenta nan luar biasa. Kekuatan kaki kirinya mirip seperti Messi. Bahkan dia mempunyai kecepatan lebih sebagai penyerang sayap dan susah untuk dijinakkan siapa pun.

Dalam pertandingan final seperti Piala Dunia, hasil akhir bukan lagi ditentukan siapa nan mempunyai teknik nan lebih baik. Penentuannya terletak pada kohesivitas tim, determinasi untuk memenangi pertandingan, tim nan paling sedikit melakukan kesalahan, dan terakhir adalah 'Dewi Fortuna'.

Argentina tiga kali bisa keluar dari lubang jarum. Mereka selalu bisa mengubah 10 menit terakhir dari ketertinggalan menjadi kemenangan. Kesabaran untuk memanfaatkan secara maksimal lebar lapangan memunculkan penyelamat bisa melalui Cristian Romero, Julian Alvarez, alias Lautaro Martinez.

Spanyol juga mempunyai pemain-pemain nan muncul sebagai penyelamat. Bisa kiper Unai Simon nan dua kali sukses memotong bola ujung tombak Prancis Kylian Mbappe pada area 30 meter, alias kapten kesebelasan Rodrigo Hernandez nan kukuh sebagai jangkar alias juga Mikel Merino sebagai super-sub.

Namun, final Piala Dunia 2026 menjadi takdir nan mempertemukan Lionel Messi dan Lamine Yamal. Seperti lirik lagu Perahu Kertas Dee Lestari, sering kita tidak pernah bisa menduga apa nan digariskan Tuhan.

'Ku bahagia

Kau telah terlahir di dunia

Dan kau ada

Di antara miliaran manusia

Dan ku bisa

Dengan radarku

Menemukanmu'.

Selengkapnya