Ilustrasi(MI/Lina Herlina)
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan keahlian impresif sepanjang tiga bulan kedua tahun 2026, dengan produksi nikel dalam matte melesat 19% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 16.153 metrik ton.
Lonjakan produksi ini menjadi katalis utama pertumbuhan pendapatan nan mencapai AS$290 juta, alias naik 15% secara kuartalan, sekaligus mengerek untung bersih menjadi AS$61 juta, melonjak 39% dari AS$44 juta pada kuartal pertama.
Pencapaian ini tidak lepas dari rampungnya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026 nan meningkatkan kapabilitas operasional, serta disiplin tinggi dalam pengelolaan biaya nan sukses menekan biaya tunai pokok penjualan menjadi AS$10.005 per ton, membaik dari posisi sebelumnya AS$10.382 per ton.
Tiga Pilar Pertumbuhan
Di kembali nomor produksi nan menggembirakan, PT Vale tengah membangun fondasi upaya nan lebih kokoh melalui pengoperasian tiga hub pertambangan strategis. Blok Bahodopi mencatatkan penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal kedua, sementara Blok Pomalaa membukukan lonjakan penjualan signifikan dari 89 ribu wmt menjadi 496 ribu wmt dalam periode nan sama.
"Kinerja kuat dari kedua proyek pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan peningkatan kapabilitas operasi serta memperkuat strategi kami untuk mendiversifikasi sumber pendapatan," ujar Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, dalam keterangan resminya.
Energi dan Biaya Terkendali
Kinerja finansial nan solid tercermin dari EBITDA nan melonjak 45% secara kuartalan menjadi AS$116 juta, menunjukkan peningkatan operating leverage nan signifikan. Harga realisasi rata-rata nikel matte juga mengalami penguatan 4% menjadi AS$14.765 per ton, sejalan dengan esensial pasar nikel nan kondusif.
Meski konsumsi daya meningkat seiring pertumbuhan produksi, Perseroan tetap bisa mengelola biaya dengan efektif. Harga High Sulphur Fuel Oil (HSFO), diesel, dan batu bara memang mengalami tren kenaikan masing-masing sekitar 25%, 40%, dan 12% akibat situasi geopolitik global, namun PT Vale sukses menjaga efisiensi operasional di tengah tekanan tersebut.
Hilirisasi Semakin Nyata
Momen paling berhistoris di kuartal ini adalah tibanya autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, komponen vital dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Pada 22 Juli 2026, PT Vale berbareng mitra strategis GEM Co., Ltd. dan EcoPro menggelar aktivitas serah terima nan dihadiri langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani.
Kedatangan autoclave ini menjadi langkah konkret pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia. Ke depan, PT Vale bakal mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Produk antara nan sangat krusial dalam rantai pasok dunia baterai kendaraan listrik.
Terjaga
Sepanjang kuartal kedua, PT Vale merealisasikan shopping modal sekitar AS$116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi dan pengembangan proyek-proyek strategis.
Meski saldo kas tercatat AS$111 juta pada 30 Juni 2026, menurun dari AS$220 juta pada akhir Maret, manajemen menegaskan komitmennya pada alokasi modal nan bijak dan manajemen likuiditas nan disiplin.
Dengan total produksi semester pertama mencapai 29.773 ton nikel matte, serta pencapaian signifikan di proyek-proyek pertumbuhan, PT Vale berada pada posisi nan kuat untuk memanfaatkan kesempatan pasar dan mendukung agenda hilirisasi nasional. Perseroan optimistis dapat mencapai sasaran produksi tahunan dan terus menciptakan nilai berkepanjangan bagi pemangku kepentingan. (LN/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·