Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat kapabilitas terpasang panas bumi di Indonesia saat ini baru mencapai 11-12% dari total potensi nan dimiliki. Padahal, Indonesia merupakan pemilik persediaan panas bumi terbesar kedua di bumi nan berpotensi menjadi tumpuan daya bersih nasional.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi memaparkan tantangan serta kesempatan besar dalam mengoptimalkan "harta karun" daya hijau tersebut. Ia menekankan bahwa kesenjangan antara sumber daya nan tersedia dengan pemanfaatannya saat ini menjadi komitmen besar bagi perusahaan untuk segera ditingkatkan.
"Iya mungkin bisa jadi potensi itu nan terbesar di bumi tapi jika kita lihat dari installed capacity nan terpasang itu tidak sampai 20% paling hanya sekitar ya 11 alias 12%," katanya dalam Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/7/2026).
PGE saat ini mempunyai kapabilitas terpasang sebesar 727 Mega Watt (MW) dan menargetkan pertumbuhan kapabilitas hingga 1,8 Giga Watt (GW) pada tahun 2033. Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapabilitas terpasang mencapai 3 GW dan berambisi menjadi perusahaan panas bumi terbesar di dunia.
"Targetnya itu kita itu mau jadi nomor satu di bumi nomor satu di bumi dan PGE mau juga menjadi company dengan installed kapabilitas terpasang terbesar di bumi ialah 3 Gigawatt itu visi kita ke depan," imbuhnya.
Untuk mencapai sasaran tersebut, perusahaan tengah mempercepat beragam proyek, salah satunya melalui tajak perdana pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 di Muara Enim, Sumatra Selatan. Selain itu, PGE juga melakukan eksplorasi di area Gunung 3 Lampung serta persiapan pengeboran di wilayah Kotamobagu, Sulawesi Utara.
Edwil menilai panas bumi mempunyai kelebihan sebagai daya baseload nan sangat stabil lantaran produksinya tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca maupun waktu. Namun, dia mengakui bahwa industri ini tetap menghadapi tantangan akibat tinggi dan kebutuhan biaya investasi nan besar, sehingga diperlukan kerja sama dengan pemerintah mengenai izin dan support ekosistem.
"Kita menyadari panas bumi ini mirip seperti daya fosil di mana dia bisa menjadi support bagi baseload alias daya nan tidak dipengaruhi oleh panas tidak dipengaruhi oleh hujan siang malam jadi dia bakal konsisten menghasilkan listrik di situasi apapun juga," tandasnya.
RUPTL 2025-2034
Pemerintah menargetkan tambahan kapabilitas pembangkit listrik baru dalam RUPTL 2025-2034 ini sebesar 69,5 Giga Watt (GW).
Dari sasaran tambahan pembangkit tersebut, sekitar 42,6 GW bakal berasal dari pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT), 10,3 GW dari sistem penyimpanan daya (storage), dan 16,6 GW dari pembangkit berbasis daya fosil.
Adapun rinciannya untuk kapabilitas pembangkit EBT adalah sebagai berikut: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 17,1 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 11,7 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) 7,2 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 5,2 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi 0,9 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) 0,5 GW.
Sementara itu, untuk kapabilitas sistem penyimpanan daya mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Kemudian, untuk pembangkit fosil tetap bakal dibangun sebesar 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·