ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada Juli 2026 sebesar Rp 14.562 per liter. HIP pada periode Juli 2026 ini turun dari periode Juni 2026 nan sebesar Rp 14.643 per liter.
"Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk Biodiesel dan Bioetanol bulan Juli 2026 sudah resmi ditetapkan," tulis akun IG resmi @djebtke, dikutip Senin (6/7/2026).
Formula nan digunakan HIP biodiesel yaitu:
Harga CPO KPB (PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara) rata-rata + US$ 85 per ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut.
Adapun nilai CPO KPB rata-rata terhitung dari periode 25 Mei 2026 - 24 Juni 2026 sebesar Rp 15.217/kg.
Sedangkan US$ 85/MT adalah nilai konversi bahan baku menjadi biodiesel, dengan 870kg/m3 merupakan aspek satuan dari kg ke L. Sementara nilai kurs menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia dengan periode kurs 25 Mei-24 Juni 2026 sebesar Rp 17.895.
Untuk ongkos angkut tertuang di dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 290.K/EK.05/MEM.E/2025 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel nan Dicampurkan ke Dalam Bahan Bakar Minyak.
Implementasi B50
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, mandatori B50 secara resmi mulai bertindak pada 1 Juli 2026. Namun, pemerintah memberikan masa penyesuaian alias transisi hingga tiga bulan ke depan bagi badan upaya untuk menghabiskan stok B40. Ini artinya, penerapan penuh dari B50 ini mulai terlaksana pada 1 Oktober 2026.
"Per 1 Juli dengan B50. Lalu poin nan kedua adalah masa transisi. Masa transisi ditetapkan 3 bulan. Nah, 3 bulan ini berfaedah masa transisi itu apa? Satu, menghabiskan stok," ungkap Eniya dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, masa transisi diperlukan agar stok B40 di kilang maupun akomodasi pencampuran (blending) dapat dihabiskan terlebih dahulu. Selama periode tersebut, spesifikasi Solar nan beredar tetap bisa berada di atas B40 sebelum secara berjenjang mencapai komposisi B50.
"Kalau tetap ada di kilang-kilang itu tersedia B40, jika di situ pun mau diblending dengan B50 kan pastinya kelak spesifikasinya sedikit berbeda, tapi pasti di atas 40%. Jadi spesifikasi ini kita berikan masa transisi lah, pasti di atas 40% tetapi kelak lambat laun menuju 50%," kata dia.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

19 jam yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·