RI Bakal Ciptakan BBM Bensin Baru E20, Butuh 4 Juta Kilo Liter Etanol

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan program pembuatan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis baru ialah bioetanol 20% (E20) alias pencampuran bensin dengan etanol nan berasal dari tebu, singkong hingga jagung. Untuk mendukung penerapan itu, pemerintah memerlukan sekitar 4 juta Kilo Liter (KL) etanol.

Semula, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa saat ini, kebutuhan bensin untuk masyarakat Indonesia mencapai 40 juta KL, sementara kapabilitas produksi hanya mencapai 14,3 juta KL. "Jadi impornya nyaris 25 juta kiloliter, namun begitu kilang Balikpapan kita resmikan di bulan Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta kiloliter bensin, sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter," ujar Bahlil dalam aktivitas Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, dikutip Senin (29/6/2026).

Meski tambahan kapabilitas produksi dari Kilang Balikpapan bakal menekan kebutuhan impor, pemerintah tetap kudu memenuhi kekurangan pasokan bensin sekitar 20 juta KL per tahun. Untuk itu, pemerintah menyiapkan Program E20 nan mengombinasikan bensin dengan 20% etanol sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Menurut Bahlil, kebijakan tersebut dirancang dengan merujuk pada keberhasilan program biodiesel berbasis kelapa sawit nan berkembang dari B10 hingga B50 pada sektor solar. Pendekatan serupa bakal diterapkan pada sektor bensin melalui pengembangan industri bioetanol dalam negeri.

"Untuk mengurangi impor nan tersisa 20 juta kiloliter maka kita bakal menerapkan Program E20 nan idenya berangkat dari kesuksesan Program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi nan diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah bakal menjadi off taker produksi etanol nan dihasilkan petani," ungkapnya.

Bahlil menjelaskan, kebutuhan etanol tersebut bakal dipenuhi dari komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah juga bakal berkedudukan sebagai pembeli utama (off-taker) untuk menjamin penyerapan produksi etanol nan dihasilkan petani dan pelaku upaya di sektor hulu.

Selain mengurangi impor bensin, penerapan Program E20 juga diharapkan memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian dan industri bioenergi nasional. Kebijakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai sasaran net zero emission (NZE) pada 2060 alias lebih cepat

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya