RI Punya Ladang Migas Non Konvensional, Sumber Dayanya 740 Juta Barel!

1 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memproyeksikan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) non-konvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau, mencapai nyaris 740 juta barel setara minyak (barrels oil equivalent). Penemuan tersebut diproyeksikan bisa memperkuat ketahanan daya nasional.

Sebagai informasi, sumur MNK nan saat ini dikembangkan oleh PHR ialah Sumur Gulamo DET-1, Blok Rokan dan Sumur Kelok DET-1, Blok Rokan.

Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan Muhammad Arifin menjelaskan bahwa temuan migas non konvensional itu merupakan salah satu nan terbesar di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Ia menegaskan, perusahaan saat ini tengah mematangkan dari sisi teknis untuk mengonversi sumber daya kategori 2C tersebut menjadi produksi nasional.

"Ketika kita berbincang MNK di Rokan alhamdulillah kita sudah sukses melakukan discovery di dua sumur pertama di Gulamo dan juga di Kelok. Dan alhamdulillah temuan 2C-nya, sumber dayanya cukup besar dan dalam 10 tahun terakhir itu termasuk nan paling besar di lapangan-lapangan minyak sebesar nyaris 740 juta barrels oil equivalent," ungkapnya dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Selasa (14/7/2026).

Pihaknya memproyeksikan lapangan MNK tersebut nantinya bisa memberikan kontribusi produksi harian bagi negara. Pada masa puncak produksinya, ladang minyak tersebut diharapkan dapat menghasilkan sekitar 40.000 hingga 50.000 barel minyak per hari (bph).

"Insya Allah jika kelak sukses kita lakukan lagi pengeboran delapan sumur di tahun depan. Delapan sumur sebagai sumur demonstrasi. Mudah-mudahan MNK lapangan di Rokan ini bisa berkontribusi sampai kelak peak-nya di 40 sampai 50 ribu barrels oil per day buat negara," katanya.

Pengembangan MNK sendiri mempunyai tingkat kesulitan nan lebih tinggi lantaran karakter minyak nan terjebak di dalam batuan sehingga susah untuk diangkat. Perusahaan kudu menerapkan teknologi multi-stage fracturing serta pengeboran terarah guna merekah batuan agar minyak nan berkarakter lengket tersebut dapat diproduksikan ke permukaan.

"Jauh berbeda dengan nan reservoir saat ini kita produksikan. Kenapa lantaran memang secara petroleum sistem lapangan MNK itu minyaknya terjebak di dalam batuan nan cukup susah untuk kita angkat. Kita kudu menerapkan teknologi nan biasa kita sebut multi-stage fracturing gitu," paparnya.

Progres saat ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas tengah memproses persetujuan Kontrak Bagi Hasil (KBH) nan baru bagi PHR. Perusahaan menargetkan tahapan pengeboran sumur appraisal alias penilaian pertama dapat segera dilaksanakan pada Desember 2026 mendatang.

"Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah kelak di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal nan pertama," tandasnya.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya