Sakit

1 jam yang lalu 2
Sakit            Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

MATA Lionel Messi menerawang Minggu malam itu di Stadion New Jersey. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya saat Argentina kandas untuk mempertahankan gelar juara dunia. Matanya merah dan air mata menggenangi pelupuk matanya.

Mimpi untuk menjadi orang kedua setelah Pele, nan bisa dua kali berturut-turut mengangkat Piala Dunia, tampak begitu kuat menjelang pertandingan final. Sepertinya kemenangan nan diraih sepanjang kejuaraan bakal terus berlanjut. Delapan belas gol nan tercipta merupakan bukti ketajaman Argentina.

Jalan nan kudu dilewati Albiceleste untuk lolos ke final jauh lebih mudah daripada Spanyol. Drawing setelah penyisihan grup menguntungkan Argentina. Mereka hanya berjumpa tim-tim kuda hitam seperti Tanjung Verde (Tanjung Hijau), Mesir, dan Swis. Baru di semifinal tim didikan Lionel Scaloni kudu menghadapi tim favorit, ialah Inggris.

Kekaguman pecinta sepak bola kepada Messi semakin menjadi lantaran mahabintang sepak bola itu begitu luar biasa. Ia bisa mempertunjukkan sentuhan emasnya. Selalu bisa untuk membalikkan keadaan dalam 10 menit terakhir. Pertama saat tertinggal 0-2 dari Mesir dan kedua di semifinal saat tertinggal 0-1 dari Inggris.

Namun, saat di final penampilan mereka justru antiklimaks. Argentina seperti Tanjung Verde saat menghadapi Spanyol. Mereka dipaksa untuk menerapkan 'parkir bus' guna menahan serangan bergelombang dari Rodrigo Hernandez dan kawan-kawan.

Cedera nan dialami dua center-back jagoan Lisandro Martinez dan Cristian Romero menjadi awal malapetaka bagi Albiceleste. Pelatih Lionel Scaloni dipaksa melakukan pergantian nan tidak direncanakan.

Saat 45 menit pertama selesai, Messi sampai marah kepada rekannya. Argentina sama sekali tidak bermain bola. Mereka hanya mengejar-ngejar bola nan beranjak dari satu kaki ke kaki pemain Spanyol lainnya. Kalaupun bisa mematahkan serangan pemain 'La Furia Roja', hanya dalam beberapa detik bola sudah direbut lagi oleh pemain Spanyol.

Ternyata sampai 90 menit pertandingan berakhir, tidak ada satu pun tendangan pemain Argentina nan mengarah ke gawang Spanyol. Sebuah kejelekan besar bagi tim sekelas Argentina nan dipimpin Messi.

Kesedihan Messi malam itu bukan sekadar disebabkan Argentina kandas untuk kembali mengangkat piala, melainkan juga Albiceleste kalah kelas dan dibuat seperti tim nan baru bermain sepak bola. Messi kalah dalam permainan dan kalah hasil pertandingan.

Sebuah akhir nan sangat menyakitkan bagi mahabintang sekelas Messi. Apalagi rekan-rekannya tampil sangat kasar apalagi di akhir pertandingan seperti tidak mau menerima kekalahan.

Pemain muda terbaik Piala Dunia 2022 Enzo Fernandez diganjar kartu merah lantaran tackling nan membahayakan keselamatan center-back Spanyol Pau Cubarsi. Leandro Paredes diberi kartu merah setelah pertandingan lantaran mencekik dan membanting gelandang Spanyol, Gavi.

TIDAK MUDAH 

Kalau saja Messi menuruti kata hatinya untuk gantung sepatu setelah membawa Argentina menjadi juara bumi di Qatar, tentu ceritanya bakal menjadi lain. Semua orang bakal mengenang Messi sebagai bintang besar nan mengakhiri kariernya di puncak.

Putusan seperti itulah nan membikin nama Pele menjadi begitu harum. Bukan hanya menjadi satu-satunya pemain nan merasakan tiga kali juara dunia, dia juga tahu kapan kudu mundur dari gelangang. Setelah memimpin Brasil memenangi Piala Dunia 1970, Pele tetap berumur 30 tahun. Namun, dia tahu bahwa usianya itu sudah terlalu tua untuk tampil lagi di Piala Dunia 1974. Apalagi ketika itu mulai muncul bintang sepak bola baru seperti Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff.

Ketika Brasil tersingkir dari gelanggang di Jerman (Barat), orang tetap mengenang Pele sebagai bintang besar. Ia tidak perlu menangis lantaran kehilangan kebesarannya. Bahkan Pele kemudian menjadi duta sepak bola dengan bermain di klub Cosmos, New York, untuk memperkenalkan olahraga paling digemari di bumi ini kepada bangsa Amerika.

Messi tampil di Piala Dunia 2026 saat dia merayakan usia 39 tahun. Sebuah usia nan jauh dari ideal untuk permainan nan mengandalkan pada speed and power game. Dan terbukti, Messi sudah kehilangan kecepatan dan kekuatan seperti 10 tahun lalu.

Masa keemasan Messi sudah lewat jauh. Sekarang eranya Lamine Yamal, bayi berumur lima bulan nan nyaris 20 tahun lampau dia mandikan. Minggu malam itu Yamal membuktikan bahwa sekarang dirinyalah nan menjadi bintang.

Sebuah pelajaran krusial nan bisa dipetik, kita perlu tahu diri bahwa segala sesuatu ada akhirnya. Pilihan untuk mundur pada saat berada di puncak jauh lebih baik daripada tersingkir pada saat kita kalah. Memang tidak mudah untuk melepas ketenaran, menikmati kejayaan.

Banyak orang takut untuk kehilangan, takut untuk merasa kurang. Karena itulah orang selalu berupaya untuk terus berada di puncak. Bahkan sering kali bujukan itu membikin orang menghalalkan segala cara. Kalau perlu merekayasa agar terus berada di puncak lantaran merasakan 'power is privilege, kekuasaan itu kewenangan istimewa'.

Messi hanyalah sebuah cerita. Banyak bintang besar nan nasibnya seperti Messi. Sebut misalnya Diego Armando Maradona nan kudu dicoret dari tim Argentina Piala Dunia 1994 lantaran terbukti doping.

Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Sekarang masanya bintang muda seperti Yamal, Cubarsi, Pedri, dan Nico Williams. Karena sepak bola adalah permainan dan 'anak-anak' bakal selalu bermain dengan penuh kegembiraan.

Itulah nan kita lihat pada final Piala Dunia 2026. Para pemain Spanyol bermain begitu riang gembira. Tidak ada ketakutan nan terpancar di wajah mereka. Tim didikan Luis de la Fuente menikmati permainan mereka dan kita pun pencinta sepak bola menikmati sebuah sepak bola nan indah.

Selamat datang sepak bola indah. Selamat datang juara baru. Viva Espana!

Selengkapnya