Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menggelar pertemuan bilateral di sela-sela KTT ASEAN di Manila, Filipina. Pertemuan tatap muka pertama mereka sejak September 2025 tersebut berjalan singkat selama sekitar 35 menit akibat padatnya jadwal.
Mengutip laporan Russia Today, Kamis (23/7/2026), perundingan tersebut berfokus pada hubungan bilateral kedua negara serta rumor internasional utama, khususnya bentrok Ukraina dan situasi di Teluk Persia. Pertemuan di Manila ini digelar atas permintaan pihak Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali negosiasi perdamaian nan berupaya dimediasi oleh Presiden Donald Trump.
"Menteri Lavrov membeberkan gambaran kondisi nyata di garis depan pertempuran dan memperingatkan ancaman pengiriman senjata lanjutan ke Kyiv. Beliau juga menuding negara-negara Eropa menjalankan kebijakan destabilisasi untuk memicu kekalahan strategis bagi Rusia," beber Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengenai isi pembahasan krisis Ukraina.
Lavrov menegaskan kembali kesiapan Moskow untuk mencapai penyelesaian diplomatik atas krisis tersebut. Pihaknya menyatakan tetap berkomitmen pada usulan AS nan telah diterima oleh Presiden Vladimir Putin pada KTT di Anchorage, Alaska, tahun lalu.
Selain rumor konflik, kedua diplomat menyambut baik pemulihan kembali kontak penuh antara badan antariksa Roscosmos dan NASA. Keduanya juga sepakat mendukung ekspansi pertukaran budaya serta perbaikan kondisi operasional bagi misi diplomatik kedua negara.
"Pembicaraan ini merupakan obrolan nan baik dan jujur, di mana AS tetap bersiap memainkan peran konstruktif untuk mengakhiri perang nan tidak masuk logika ini," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio usai pertemuan.
"Namun, usulan Anchorage nan dirujuk pihak Rusia sekarang sudah tidak bertindak lagi lantaran telah ditolak oleh Kyiv. Penyelesaian bentrok memerlukan buahpikiran dan konsep baru agar dapat diterima kedua belah pihak," lanjut Marco Rubio menambahkan.
Di sisi lain, Istana Kremlin mengimbau agar publik tidak berlebihan dalam menanggapi pertemuan diplomasi tersebut. Pihak Moskow menegaskan tetap terbuka untuk melanjutkan perbincangan tatap muka secara langsung di ibu kota Rusia.
"Kelanjutan kontak antar-negara merupakan perihal nan positif, tetapi perihal ini belum menjadi momentum baru alias percepatan dalam perundingan damai," tegas Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Kendati perundingan tenteram sempat menjanjikan di awal kepemimpinan Trump, upaya tersebut hingga sekarang sebagian besar terhenti sejak AS terlibat dalam perang di Timur Tengah. Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin menegaskan Rusia tetap berpegang pada syarat awal, ialah penyerahan wilayah perbatasan baru dan pembatalan niat Ukraina berasosiasi dengan NATO.
(tps/tps)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·