ilustrasi(Antara)
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Etty Riani, mengatakan bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia sekarang semakin memprihatinkan. Tidak lagi hanya terjadi di area perkotaan, kondisi ini telah meluas hingga wilayah pesisir nan jauh dari pusat aktivitas manusia.
“Sebagian besar pencemaran laut berasal dari aktivitas di daratan, seperti limbah domestik, industri, pertanian, maupun sampah nan terbawa sungai hingga ke laut,” kata Etty, Sabtu (18/7).
Selain menurunkan kualitas air, pencemaran juga menyebabkan kerusakan ekosistem laut krusial seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang nan menjadi kediaman beragam biota laut. Etty mengungkapkan bahwa sampah plastik tetap menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia. Berdasarkan beragam penelitian di wilayah pesisir, jenis sampah nan paling banyak ditemukan antara lain bungkusan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, hingga jaring dan tali plastik.
Menurutnya, persoalan plastik menjadi semakin serius lantaran susah terurai dan dapat memperkuat ratusan tahun di lingkungan. Seiring waktu, plastik bakal terpecah menjadi mikroplastik apalagi nanoplastik nan sekarang telah ditemukan di air laut, sedimen, ikan, kerang, udang, teripang, hingga garam. Kondisi ini berpotensi menakut-nakuti kesehatan ekosistem maupun manusia melalui rantai makanan.
Ia menekankan bahwa masyarakat mempunyai peran besar dalam mencegah sampah berhujung di laut. Langkah sederhana nan dapat dilakukan antara lain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas shopping dan botol minum sendiri, memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, tidak membuang sampah ke sungai maupun pantai, serta berperan-serta dalam aktivitas bersih sungai dan pantai. Edukasi kepada family dan lingkungan sekitar juga krusial agar pengelolaan sampah menjadi budaya sehari-hari.
"Apabila pencemaran laut terus dibiarkan selama 10 hingga 20 tahun ke depan, dampaknya bakal sangat luas. Produktivitas perikanan diperkirakan menurun akibat rusaknya kediaman ikan, sementara akumulasi bahan pencemar dan mikroplastik pada biota laut dapat menakut-nakuti keamanan pangan dan kesehatan masyarakat," ujar dia.
Dari sisi ekonomi, nelayan berisiko mengalami penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan, sedangkan sektor wisata bahari juga dapat terdampak akibat menurunnya kualitas lingkungan pesisir.
“Penanganan pencemaran laut kudu dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kerjasama pemerintah, bumi usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut nan sehat dan berkepanjangan bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·