ARTICLE AD BOX
Ilustrasi(Magnific)
MALAM hari nan diterangi sinar Matahari mungkin terdengar seperti segmen dalam movie fiksi ilmiah. Namun, pendapat tersebut sekarang semakin mendekati realita setelah Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat menyetujui peluncuran satelit uji milik perusahaan rintisan Reflect Orbital. Satelit berjulukan Eärendil-1 itu dirancang membawa cermin reflektif raksasa nan bisa memantulkan sinar Matahari ke Bumi saat malam tiba. Meski dinilai inovatif, proyek ini langsung memicu kontroversi di kalangan ilmuwan.
Menurut laporan IFLScience, cermin tipis nan dapat diarahkan ini bakal memancarkan sinar ke area berdiameter sekitar lima kilometer di permukaan Bumi. Reflect Orbital menyebut teknologi tersebut sebagai sunlight on demand, nan ditujukan membantu operasi pengamanan saat bencana, memperpanjang waktu kerja di letak konstruksi, hingga meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya setelah mentari terbenam.
Namun, di kembali potensi manfaatnya, para astronom memandang akibat nan jauh lebih besar. American Astronomical Society (AAS) menilai satelit ini sengaja dirancang menjadi sangat terang sehingga dapat mengganggu pengamatan langit malam. Pantulan sinar berpotensi merusak kualitas info observatorium, menyulitkan penelitian astronomi, apalagi mengurangi keahlian intelektual dalam mendeteksi objek langit nan redup.
Kekhawatiran tidak berakhir di situ. Sejumlah mahir juga memperingatkan bahwa sinar terang dari satelit berpotensi menyilaukan pilot pesawat, pengemudi kendaraan, hingga astronom amatir nan sedang mengawasi langit menggunakan teleskop. Dalam kondisi tertentu, paparan sinar nan dipantulkan apalagi dikhawatirkan dapat membahayakan penglihatan jika diamati melalui teleskop berdiameter besar.
Dampaknya terhadap lingkungan juga menjadi sorotan. Organisasi DarkSky International menilai meningkatnya polusi sinar dapat mengganggu ritme sirkadian manusia, sekaligus memengaruhi perilaku satwa liar nan berjuntai pada siklus alami siang dan malam, mulai dari burung, penyu, hingga mamalia nokturnal. Karena itu, organisasi tersebut meminta dilakukan kajian lingkungan secara menyeluruh sebelum proyek dikembangkan lebih jauh.
Meski mendapat banyak penolakan, FCC tetap memberikan izin untuk misi demonstrasi tersebut. Dalam keputusannya, FCC menyatakan Eärendil-1 merupakan teknologi nan berpotensi menghadirkan jasa baru bagi masyarakat dan layak diuji. Namun, persetujuan ini hanya bertindak untuk satu satelit uji, bukan untuk rencana jangka panjang Reflect Orbital nan mau membangun konstelasi hingga puluhan ribu satelit berkaca di orbit Bumi.
Keberhasilan maupun kegagalan Eärendil-1 nantinya bakal menjadi penentu arah teknologi pencahayaan dari luar angkasa. Di satu sisi, penemuan ini dapat membuka kesempatan baru dalam penanganan musibah dan energi. Di sisi lain, proyek tersebut memunculkan pertanyaan besar: seberapa jauh manusia boleh mengubah langit malam demi memenuhi kebutuhan di Bumi? (iflscience/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·