Ratusan penduduk Spanyol dievakuasi ke pusat olahraga akibat kebakaran rimba luar biasa di dekat Madrid. Simak kesaksian mencekam para pengungsi di sini.(AFP)
KETIKA David Olivares pergi tidur pada Kamis malam, ancaman kebakaran hutan nan mendekati kampung halamannya di Robledo de Chavela, sekitar 50 kilometer barat Madrid, tetap terasa jauh. Namun, keesokan harinya, kepulan asap putih di kembali pegunungan dengan sigap berubah menjadi asap hitam pekat.
Sekitar pukul 17.30 waktu setempat, peringatan darurat bersuara di ponselnya, memerintahkan penduduk untuk segera mengungsi.
“Saya berpikir, ayolah, ini tahun 2026, petugas pemadam kebakaran bakal mengendalikannya dengan semua drone dan pesawat mereka,” kata pemuda berumur 27 tahun itu saat berada di pusat olahraga Las Rozas, tempat penampungan pengungsi. “Tapi rupanya tidak begitu.”
Kondisi berubah mencekam dalam hitungan menit ketika langit berubah warna.
“Warnanya berubah menjadi oranye dan terlihat sangat apokaliptik,” ujarnya. “Lalu ada asap hitam di Robledo dan Anda bisa memandang apinya. Orang-orang berteriak – seorang anak berteriak kepada ayahnya: 'Ayo pergi sekarang' – dan ada mobil serta orang-orang di mana-mana. Rasanya seperti akhir dunia. Kami mengambil tiga kucing kami, masuk ke mobil, lampau pergi.”
Hal serupa dirasakan María Rosa Marín, pengungsi asal Valdemaqueda. “Matahari terlihat sangat aneh; Anda nyaris tidak bisa melihatnya. Kelihatan seperti sesuatu dari Alkitab,” tuturnya.
Olivares dan Marín adalah bagian dari sekitar 300 pengungsi nan menghabiskan malam di pusat olahraga Las Rozas. Secara keseluruhan, sekitar 87.000 orang di wilayah tengah Spanyol telah dievakuasi alias diminta mengurung diri akibat kebakaran besar nan dipicu krisis suasana dan vegetasi kering.
David Santos, Anggota Dewan Keselamatan dan Darurat Las Rozas, menyebut para pengungsi berada dalam kondisi resah lantaran tidak tahu kapan bisa kembali alias apakah rumah mereka tetap utuh. Pihaknya menyiagakan tiga psikolog darurat, tim medis, serta menyediakan support logistik dan akomodasi bagi anak-anak. Presiden regional Madrid apalagi menggambarkan musibah ini sebagai “kebakaran rimba terburuk dalam sejarah wilayah kami.”
Di sisi lain, beberapa penduduk menilai musibah ini bukan semata akibat perubahan iklim, melainkan juga akibat kelalaian tata kelola wilayah pedesaan.
“Saya pikir ini murni kelalaian, kebijakan nan betul-betul keliru oleh pemerintah – dan saya tidak peduli pemerintah mana nan berkuasa,” kata José Celaya, 61, pengungsi asal Robledo. “Kebijakan mereka tidak ada hubungannya dengan langkah kita dulu merawat perbukitan: tidak ada lagi hewan ternak nan digembalakan di sana sekarang dan tidak ada nan membersihkan vegetasi. Mereka tidak mengizinkan orang mengumpulkan kayu bakar, nan bagaimanapun juga merupakan bahan nan mudah terbakar.”
Meski demikian, Celaya memilih bersabar dan mengapresiasi kerja keras para petugas di pengungsian. “Tidak ada gunanya emosi, lantaran marah tidak bakal menyelesaikan apa pun,” tambah Celaya. “Semua orang hanya kudu memperkuat sebaik mungkin. Semuanya tergantung pada cuaca sekarang – seberapa kencang angin berdesir dan ke arah mana angin berhembus.” (The Guardian/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·