: Hujan Lebat di Padang, Sejumlah Kawasan Tergenang Air, Pohon Tumbang Menimpa Mobil dan Kabel Listrik(MI/Yose Hendra)
CUACA ekstrem tetap membayangi Sumatera Barat (Sumbar) setelah hujan dengan intensitas sangat tinggi memicu banjir dan genangan di sejumlah daerah, terutama Kota Padang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi hujan lebat tetap berkesempatan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Peneliti Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Barat di Sicincin, Rizky Armei Saputra, mengatakan kondisi atmosfer nan memicu cuaca ekstrem di wilayah Sumbar hingga sekarang tetap bertahan.
"Potensi cuaca ekstrem tetap ada. Pemicu utamanya adalah sirkulasi siklonik nan tetap aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat sehingga mendukung pembentukan awan hujan," kata Rizky, Selasa (4/8).
Menurutnya, hujan nan mengguyur Kota Padang pada Senin (3/8) tergolong ekstrem. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, curah hujan di Lubuk Minturun mencapai 286 milimeter dalam satu hari, alias setara dengan akumulasi curah hujan nan umumnya terjadi selama satu bulan.
"Curah hujan sebulan tumpah dalam sehari. Itu masuk kategori ekstrem," ujarnya.
BMKG mengategorikan hujan ekstrem andaikan curah hujan harian melampaui 150 milimeter. Selain Lubuk Minturun, beberapa stasiun pengamatan lain juga mencatat curah hujan nan sangat tinggi, ialah Nanggalo 248 milimeter, AWS Bungus 255 milimeter, dan Stasiun Universitas Andalas 164 milimeter dalam sehari.
Rizky mengatakan, curah hujan nan tercatat di Lubuk Minturun menjadi nilai tertinggi nan pernah direkam BMKG di letak tersebut dalam kurun waktu 16 tahun terakhir.
"Curah hujan nan tercatat pada 4 Agustus 2026 di Lubuk Minturun menjadi nilai tertinggi dalam 16 tahun terakhir," katanya.
Ia menjelaskan, cuaca ekstrem kali ini dipengaruhi kombinasi beberapa aspek atmosfer nan terjadi secara bersamaan. Di antaranya adalah pertemuan massa udara (konvergensi), keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, aktifnya gelombang Rossby ekuatorial, suhu muka laut nan lebih hangat dari kondisi normal, serta aktifnya gelombang Kelvin.
"Kondisi-kondisi tersebut saling memperkuat proses pembentukan awan konvektif sehingga hujan nan turun menjadi sangat lebat dan berjalan dalam lama nan cukup panjang," jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat di Sumatra Barat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, genangan, pohon tumbang, dan angin kencang, terutama bagi penduduk nan tinggal di wilayah rawan musibah maupun di sekitar bantaran sungai. Rizky juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau info cuaca dan peringatan awal nan dikeluarkan BMKG sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem nan tetap dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang. (H-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·