Singapura Mulai Was-Was Dapat Bencana Kiriman dari Indonesia

1 hari yang lalu 5
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kembalinya musibah kabut asap lintas pemisah (transboundary haze) nan diperkirakan menakut-nakuti area Asia Tenggara pada paruh kedua 2026.

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Singapore Institute of International Affairs (SIIA) mengeluarkan peringatan akibat tertinggi alias "puncal bahaya" dalam laporan Haze Outlook 2026, nan memprediksi periode Agustus hingga September menjadi masa paling rawan terjadinya kebakaran rimba dan lahan.

Ketua SIIA Simon Tay mengatakan, prakiraan musim tandus nan lebih ekstrem memang meningkatkan risiko, namun kondisi tersebut tidak berfaedah musibah kabut asap tidak dapat dicegah. Ia menekankan pentingnya mempertahankan praktik pengelolaan lahan nan berkepanjangan di seluruh rantai pasok, termasuk bagi pelaku upaya mini dan menengah nan menghadapi tekanan ekonomi.

"Tantangannya adalah memastikan bahwa praktik-praktik berkepanjangan dipertahankan di seluruh rantai pasokan, termasuk oleh upaya mini dan menengah nan mungkin beraksi di bawah tekanan ekonomi nan lebih ketat," ujarnya mengutip Channel News Asia, Minggu (28/6/2026).

Dalam laporannya, SIIA menilai Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei berpotensi terdampak kabut asap andaikan musim tandus berjalan lebih panjang dan lebih kering akibat kejadian El Nino.

Hal ini merupakan kali kedua sejak laporan tersebut diterbitkan pada 2019 lembaga tersebut mengeluarkan status akibat tertinggi, setelah sebelumnya dilakukan pada 2023 saat kabut asap kembali menyelimuti Singapura akibat meningkatnya titik panas di Sumatra.

Kabut asap kembali melanda Singapura pada tahun itu seiring melonjaknya titik api di beberapa wilayah Sumatra di tengah kondisi kekeringan nan dipicu oleh kejadian El Niño. Kabut asap lintas pemisah sebagian besar berasal dari kebakaran rimba dan gambut di area tersebut.

Laporan tersebut menjelaskan, ancaman kabut asap tahun ini disebabkan oleh kombinasi sejumlah faktor. Selain kejadian El Nino nan diperkirakan memicu cuaca lebih panas dan curah hujan nan lebih rendah, meningkatnya permintaan biofuel bumi juga dikhawatirkan mendorong sebagian pelaku upaya membuka lahan dengan langkah pembakaran nan lebih murah namun tidak berkelanjutan.

Apalagi, tekanan terhadap sektor pertanian akibat kenaikan biaya daya dan pupuk juga dinilai dapat memperbesar akibat tersebut.

Laporan tersebut juga menyoroti kondisi Indonesia nan bakal menghadapi musim tandus berisiko tinggi pertama di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Disebutkan bahwa anggaran penanganan kebakaran rimba dan lahan di Kementerian Kehutanan maupun sejumlah pemerintah wilayah berada di bawah tekanan seiring kebijakan efisiensi shopping pemerintah. Kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi kesiapan pencegahan maupun penanganan kebakaran andaikan jumlah titik api meningkat selama musim kemarau.

Menurut SIIA, musim tandus 2026 bakal menjadi ujian krusial bagi efektivitas sistem pencegahan kebakaran dan tata kelola lahan di kawasan. Apabila langkah mitigasi tidak dilakukan secara optimal, kebakaran di area rimba dan lahan gambut berpotensi berkembang menjadi sumber kabut asap lintas negara nan kembali mengganggu aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kesehatan masyarakat di Asia Tenggara.

Laporan itu mencatat bahwa Pusat Koordinasi ASEAN untuk Pengendalian Polusi Kabut Asap Lintas Batas nan baru saja diresmikan bermaksud untuk memperkuat koordinasi kebijakan mengenai mitigasi kabut asap dan pengelolaan lahan, sebagai pelengkap info ilmiah dan pemantauan kabut asap melalui satelit nan disediakan oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN di Singapura.

Secara historis, SIIA mengingatkan bahwa musibah kabut asap terbesar di area terjadi ketika kejadian El Nino berjalan berbarengan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), seperti nan terjadi pada 1997-1998, 2015, dan 2023.

Untuk 2026, lembaga tersebut mengutip info National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat nan memperkirakan kesempatan terjadinya El Nino kuat mencapai 63%.

"Kondisi cuaca pada sisa bulan-bulan tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu musim tandus terpanas dan terkering nan pernah tercatat, sehingga meningkatkan akibat kebakaranw lahan nan dapat menyebar di luar kendali," kata SIIA dalam laporannya.

Kondisi nan lebih kering dan hangat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran lahan gambut dan vegetasi di wilayah tersebut.

(rob/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya