Cuplikan serial TV Nabi Yusuf.(Youtube Salam Media)
KRISIS kelaparan yang diprediksi oleh Yuzarsif (Nabi Yusuf AS) mulai menunjukkan akibat nyata, tidak hanya di wilayah Mesir tetapi juga merambah hingga ke negeri tetangga seperti Kanaan. Situasi ini memicu ketegangan politik antara pemerintah Firaun Akhenaten dengan para pemimpin kuil Amon nan selama ini mendominasi kekuasaan dan kekayaan.
Berikut sinopsis serial televisi dari Iran berjudul Nabi Yusuf bagian 34. Semoga menginspirasi.
Konflik Gandum dan Kekuasaan Kuil Amon
Para pemimpin kuil Amon melayangkan protes keras kepada Firaun Akhenaten mengenai kebijakan Yuzarsif nan mewajibkan kuil bayar jatah gandum. Mereka berdasar bahwa gandum semestinya diberikan secara cuma-cuma sebagai corak penghormatan kepada dewa Amon. Namun, Yuzarsif dengan tegas menyatakan bahwa gandum adalah hasil kerja keras masyarakat dan kuil nan kaya raya kudu menggunakan simpanan emas serta peraknya untuk membeli bahan pangan tersebut.
Firaun mendukung penuh langkah Yuzarsif. Ia apalagi mempersilakan para pemimpin untuk mencari gandum di negeri lain jika merasa nilai nan ditetapkan pemerintah terlalu mahal. Namun, Yuzarsif memprediksi bahwa negeri-negeri tetangga pun sedang dilanda musibah kelaparan nan sama, sehingga upaya impor gandum oleh pihak kuil dipastikan bakal gagal.
Kondisi Memprihatinkan di Kanaan
Di Kanaan, family Nabi Yakub AS mulai merasakan akibat kekeringan. Benyamin melaporkan bahwa kualitas panen gandum sangat buruk, di mana bulir-bulir gandum tumbuh layu dan sedikit. Nabi Yakub menginstruksikan anak-anaknya untuk tetap memanen yang tersisa dan menyimpannya dengan sangat irit guna memperkuat hidup.
Dalam percakapan dengan cucunya, Nabi Yakub juga menjelaskan asal-usul julukan Bani Israil yang merujuk pada keturunan Israil, nama lain dari dirinya sendiri. Ia mengenang masa 30 tahun lampau ketika keberkahan seolah berkurang sejak hilangnya salah satu putranya, Yusuf.
Kebijakan Sosial Yuzarsif di Tengah Krisis
Menghadapi gelombang pengungsi dari negeri tetangga seperti Kabiriah, Yuzarsif menerapkan patokan ketat tetapi tetap manusiawi:
- Pemberdayaan Budak: Sekitar 400 pemilik budak membebaskan budak mereka untuk mengurangi biaya. Yuzarsif mempekerjakan mereka di silo-silo gandum dengan bayaran gandum gratis.
- Jatah Terukur: Setiap orang dari luar negeri hanya diperbolehkan membeli maksimal 10 takar gandum per bulan untuk mencegah penimbunan.
- Verifikasi Ketat: Petugas wajib memeriksa peralatan bawaan untuk memastikan tidak ada senjata nan masuk ke wilayah Mesir.
Nasib Zulaikha dan Pencarian Yusuf
Di sisi lain, kondisi Zulaikha digambarkan sangat memprihatinkan. Mantan penguasa wanita nan sekarang hidup dalam kemiskinan dan kehilangan penglihatan itu tetap setia menantikan kehadiran Yusuf. Meski matanya tak lagi bisa memandang dengan jelas, dia mengaku bisa mengenali Yusuf hanya dari aromanya.
Saat rombongan Yuzarsif melintas menuju Memphis melalui jalur darat lantaran sungai Nil nan mengering, Zulaikha berada di tengah kerumunan massa. Yuzarsif sempat mendengar bunyi familiar nan memanggil nama aslinya, "Yusuf", di tengah sorakan rakyat nan memanggilnya dengan nama Mesir. Namun, lantaran padatnya kerumunan, pertemuan tersebut belum terjadi.
Rasa malu bakal kondisinya nan sekarang, Zulaikha memilih menutup wajahnya di kembali orang-orang. Ia tidak mau Yusuf melihatnya dalam keadaan hina.
"Aku sangat senang lantaran saya memandang Yusufku sebelum saya buta total. Dia terlihat sangat tampan dan hebat," ungkap Zulaikha kepada para pelayannya nan setia kembali menemaninya di istana tua.
Kebijakan Revolusioner Yusuf di Silo
Di sisi lain, Yusuf terus menjalankan amanahnya sebagai pengelola pangan Mesir dengan langkah nan bijaksana. Ia menerapkan sistem penyimpanan gandum beserta batangnya, teknik nan terbukti menyelamatkan stok pangan dan hewan ternak dari kehancuran.
Yusuf juga memperkenalkan sistem transaksi nan unik dan setara bagi rakyat nan tidak mempunyai duit koin untuk membeli gandum:
- Emas dan Perak: Diterima sebagai perangkat tukar resmi.
- Hewan Ternak: Sapi alias domba dapat dijadikan jaminan. Kepemilikannya beranjak ke pemerintah, tetapi rakyat tetap diperbolehkan memelihara dan mengambil manfaatnya.
- Properti dan Lahan: Jika tidak mempunyai apa-apa, rumah alias lahan menjadi milik pemerintah, tetapi rakyat tetap diizinkan tinggal dan mengolah lahan tersebut.
Kebijakan ini sempat dipertanyakan lantaran dianggap seperti lelucon nan tidak mengambil untung dari rakyat. Namun, Yusuf menegaskan bahwa tujuannya adalah keadilan dan revolusi sosial di Mesir ialah nan tertindas kudu bangkit.
Runtuhnya Pemujaan terhadap Dewa Amon
Perubahan besar juga terjadi dalam jiwa Zulaikha. Dalam momen keputusasaan, dia berhadapan dengan patung Amon nan dulu dia sembah dengan agung. Zulaikha menyadari bahwa selama dia kaya dan berkuasa, dia memuja Amon, tetapi dewa tersebut tidak pernah menolongnya saat dia jatuh ke titik terendah.
Ia membandingkan nasibnya dengan Yusuf. "Tuhannya Yusuf mengangkat seorang budak dari kehinaan ke puncak kehormatan dan kau (Amon) menjatuhkan seorang wanita agung Mesir dari ketinggian martabatnya ke dalam kehinaan ini," ucapnya pedih.
Zulaikha sekarang mulai mempertanyakan keyakinannya dan menyatakan kekagumannya pada kemurahan hati Tuhan nan disembah oleh Yusuf. Di akhir kesadarannya, dia mulai mencari langkah gimana bisa membikin Tuhan Yusuf senang dan mendapatkan pengampunan-Nya. (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·