Ilustrasi: Ledakan di Teheran.(Al Jazeera)
PEMERINTAH Inggris memutuskan untuk menarik sementara seluruh staf kedutaannya dari Iran. Langkah penarikan ini diambil menyusul memburuknya situasi keamanan di wilayah Timur Tengah akibat lonjakan konfrontasi militer.
"Mengingat situasi keamanan, staf kedutaan Inggris telah ditarik sementara dari Iran. Kedutaan kami tetap beraksi secara jarak jauh," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Inggris pada Rabu (22/7).
Keputusan London tersebut merespons eskalasi militer nan kian memuncak setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan rencana peluncuran serangan skala besar ke area Gunung Pickaxe di Iran pada Selasa (21/7). Rencana gempuran ini diklaim sebagai jawaban atas laporan media mengenai dugaan pemindahan perangkat sentrifugal nuklir Iran ke kompleks bawah tanah di area pegunungan tersebut.
Situasi di area tersebut sebenarnya sempat mereda ketika Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni lampau untuk menghentikan bentrok nan meletus sejak 28 Februari. Namun, ketegangan kembali pecah setelah pasukan AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap wilayah Iran sejak 8 Juli.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim serangan itu merupakan tindakan jawaban atas langkah Iran nan mencegat dan menindak kapal-kapal komersial di perairan strategis Selat Hormuz.
Sebagai respons, pasukan militer Iran meluncurkan serangan jawaban dengan membidik sejumlah pangkalan udara militer AS nan tersebar di beberapa negara area Timur Tengah. Buntut dari saling balas serangan tersebut, Trump secara resmi menyatakan pada 9 Juli bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku.
(Ant/Sputnik/RIA Novosti/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·