loading...
Dr Ressa Uli Patrissia, pengamat komunikasi teknologi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto/Dok. SindoNews
Dr Ressa Uli Patrissia
pengamat komunikasi teknologi
Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah
JAM tangan pandai sekarang tidak hanya menghitung langkah alias menampilkan notifikasi. Perangkat berbasis kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) bisa membaca pola tidur, memperkirakan tingkat stres, menilai pemulihan tubuh, hingga mengingatkan penggunanya untuk bergerak dan beristirahat.
Bagi banyak orang, info tersebut terasa seperti corak perhatian personal. Sebuah getaran di pergelangan tangan dapat mengingatkan pengguna untuk berdiri setelah terlalu lama duduk. Skor tidur membantu seseorang menilai kualitas istirahatnya.
Sementara itu, parameter stres dapat menjadi argumen untuk memperlambat ritme kerja. Namun, hubungan manusia dengan smartwatch rupanya lebih kompleks daripada sekadar menggunakan perangkat pencatat kesehatan.
Penelitian terhadap 30 pengguna smartwatch berbasis AI di Indonesia menunjukkan bahwa umpan kembali biometrik, notifikasi prediktif, dan penilaian berbasis nomor secara perlahan dapat mengubah langkah seseorang memahami tubuh, waktu, emosi, apalagi produktivitasnya. Para partisipan berasal dari Generasi X, milenial, dan Generasi Z serta menggunakan beragam perangkat, seperti Apple Watch, Samsung Galaxy Watch, Garmin, dan Huawei.
Ketika tubuh diterjemahkan menjadi angka
Fenomena ini dijelaskan melalui konsep algorithmic enframing alias pembingkaian algoritmik. Secara sederhana, pembingkaian algoritmik terjadi ketika tubuh, waktu, emosi, dan aktivitas manusia terus-menerus diterjemahkan menjadi data.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan standar tertentu, lampau dikembalikan kepada pengguna dalam corak skor, peringatan, rekomendasi, alias dorongan perilaku. Akibatnya, seseorang tidak lagi hanya bertanya, “Apakah saya merasa lelah?” Ia mulai bertanya, “Berapa skor pemulihan saya hari ini?”
Pengguna juga dapat merasa belum cukup aktif meskipun tubuhnya telah bergerak sepanjang hari lantaran lingkaran aktivitas pada perangkat belum tertutup. Sebaliknya, seseorang dapat menganggap harinya produktif hanya lantaran sasaran mobilitas nan ditentukan aplikasi telah terpenuhi.
Teknologi dalam situasi tersebut tidak sekadar memberikan informasi. Teknologi ikut menentukan gimana kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari dipahami.
Penelitian tersebut mengidentifikasi empat pola hubungan antara manusia dan data. Keempatnya bukan tahapan nan kudu dilalui secara berurutan. Seseorang dapat mengalami beberapa pola sekaligus dalam aspek kehidupan nan berbeda.
Pertama, hidup di dalam data. Pola pertama disebut Living in Data alias hidup di dalam data. Pada tahap ini, angka-angka dari smartwatch telah menjadi bagian biasa dari kehidupan. Memeriksa jumlah langkah, debar jantung, skor tidur, alias parameter stres terasa sama alaminya dengan memandang jam.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·