Studi Terbaru: Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa bukan Pemakan Belatung

10 jam yang lalu 4
 Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa bukan Pemakan Belatung Neanderthal Pemburu Mamut Raksasa.(Dok. Inverse)

TEKA-TEKI mengenai pola makan ekstrem jenis purba Neanderthal akhirnya menemukan titik terang melalui penelitian terbaru. Kerabat purba manusia ini terbukti bukan pemakan larva serangga alias belatung, melainkan pemburu handal nan memangsa megafauna raksasa seperti mamut.

Selama bertahun-tahun, para intelektual meneliti tingginya kadar isotop nitrogen-15 pada sampel kolagen fosil Neanderthal nan mencapai 12 hingga 14 persen. Angka ini jauh melampaui predator puncak lainnya seperti serigala abu-abu dan hiena nan hanya mempunyai kadar nitrogen berkisar antara 7,9 hingga 8,4 persen.

Tingginya nomor tersebut sempat memicu perdebatan lantaran manusia tidak dapat mengonsumsi protein murni secara berlebihan tanpa akibat kesehatan fatal nan disebut rabbit starvation. Melansir IFLScience, sempat muncul teori bahwa Neanderthal mendapatkan asupan nitrogen tinggi dari konsumsi larva serangga pada buntang hewan.

Namun, studi nan dipimpin oleh José Luis Guil-Guerrero dari Universitas Almería mematahkan asumsi tersebut. Melalui simulasi statistik, tim peneliti menemukan bahwa agar kadar nitrogen mencapai nomor tersebut, ulat kudu mendominasi 40 hingga 100 persen porsi makan harian Neanderthal, sebuah skenario nan mustahil secara biologis.

"Konsumsi larva serangga bakal memerlukan proporsi makanan nan sama sekali tidak masuk logika untuk mendorong sinyal kolagen Neanderthal sejauh itu melampaui pemisah karnivora puncak," ujar Guil-Guerrero.

Penelitian nan diterbitkan dalam American Journal of Biological Anthropology ini menegaskan bahwa nilai isotop tinggi tersebut lebih masuk logika dijelaskan oleh konsumsi daging mamut raksasa. Daging mamut secara alami mempunyai kandungan nitrogen sangat tinggi nan bisa mendongkrak profil kolagen secara signifikan.

Meski demikian, para mahir menekankan bahwa perburuan mamut mungkin bukan satu-satunya aspek tunggal. Peneliti mengakui bahwa penyebab pasti tingginya nilai isotop kemungkinan melibatkan campuran kompleks antara perilaku berburu, kondisi lingkungan regional, hingga stres fisiologis nan tetap terus diteliti hingga saat ini. (IFLScience/Z-10)

Selengkapnya