Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman terhadap pasokan daya dunia kembali meningkat. Iran dilaporkan telah meminta golongan Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah andaikan Amerika Serikat menyerang prasarana daya Iran, sebuah langkah nan berpotensi melumpuhkan dua jalur ekspor minyak terpenting bumi secara bersamaan.
Informasi tersebut diungkap tiga sumber kepada Reuters pada Kamis (16/7/2026). Dua sumber senior Iran serta satu sumber regional nan mengetahui pembahasan tersebut mengatakan pendapat itu telah didiskusikan di tingkat kepemimpinan Republik Islam Iran dan pesan tersebut telah disampaikan kepada sekutu Teheran, golongan Houthi di Yaman.
Ketiga sumber nan berbincang dengan syarat anonim itu mengatakan Houthi baru-baru ini telah menerima permintaan dari Teheran. Namun, mereka tidak menjelaskan gimana pesan tersebut disampaikan maupun apakah komunikasi itu dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menakut-nakuti bakal menyerang prasarana kelistrikan Iran pada Selasa lalu.
Sumber nan dekat dengan golongan Houthi mengatakan golongan tersebut telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran internasional.
Menurut sumber tersebut, Houthi telah menempatkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah, tepatnya di area dataran tinggi Yaman nan menghadap Hodeidah dan Teluk Aden.
Kelompok itu sekarang hanya menunggu perintah untuk memulai operasi.
Sumber tersebut juga mengatakan keputusan mengenai kapan Selat Bab el-Mandeb bakal ditutup berada di tangan perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) nan telah berada di Yaman.
Apabila ancaman terhadap Bab el-Mandeb betul-betul direalisasikan, krisis daya dunia diperkirakan bakal semakin memburuk. Sebab, Iran sebelumnya telah menutup Selat Hormuz, sementara Bab el-Mandeb merupakan jalur utama kedua bagi ekspor minyak Timur Tengah.
Jika kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, maka dua koridor ekspor minyak terpenting di area bakal lumpuh sekaligus, membuka babak baru dalam bentrok Iran dengan Amerika Serikat sekaligus memperdalam krisis daya dunia.
Sementara itu, pada Senin lalu, Houthi menembakkan rudal ke wilayah Arab Saudi setelah menuduh kerajaan itu membombardir airport nan berada di bawah kendali mereka. Serangan tersebut mengakhiri gencatan senjata tidak resmi nan telah berjalan selama empat tahun antara Arab Saudi dan golongan Houthi.
Analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen akibat Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, mengatakan memburuknya hubungan Houthi dan Arab Saudi terjadi pada saat nan sangat sensitif.
"Jika pertempuran semakin intensif dan meluas ke prasarana ekspor serta pelayaran di Laut Merah, maka perihal itu bakal menakut-nakuti satu-satunya jalur pengganti utama ekspor minyak dari area tersebut," katanya.
Dua sumber regional nan dekat dengan pemerintah Arab Saudi mengatakan Riyadh memandang serius ancaman dari Iran maupun Houthi.
Mereka juga menyebut pemerintah Saudi menyadari bahwa golongan Houthi sekarang berkoordinasi secara lebih erat dengan Iran mengenai situasi di Laut Merah.
Adapun Iran memandang golongan Houthi sebagai bagian dari poros perlawanan, aliansi regional nan juga mencakup Hizbullah di Lebanon serta kelompok-kelompok bersenjata Syiah di Irak nan telah terlibat dalam bentrok area antara Teheran dan Washington.
Meski demikian, golongan Houthi hingga sekarang belum secara resmi menyatakan ikut masuk ke dalam perang tersebut.
AS selama ini menuduh Iran memasok senjata, dana, serta training militer kepada Houthi, termasuk melalui jaringan Hizbullah. Namun, tuduhan tersebut terus dibantah oleh pemerintah Iran.
(luc/luc)
Addsource on Google

5 hari yang lalu
10







English (US) ·
Indonesian (ID) ·