Ilustrasi(magnifik)
MEMBAYANGKAN di mana seekor dinosaurus hidup 200 juta tahun lampau bukan lagi sekadar dugaan. Berkat kemajuan teknologi, para intelektual sekarang dapat melacak kembali posisi fosil ke letak aslinya pada masa silam hanya dalam hitungan detik, apalagi tanpa kudu menulis satu baris kode pemrograman.
Terobosan tersebut datang melalui Paleocoordinates Calculator (PACA), sebuah platform berbasis web nan dikembangkan untuk memudahkan rekonstruksi posisi geografis fosil berasas usia geologinya.
Menurut laporan Phys, perangkat ini dirancang agar dapat digunakan oleh siapa saja, mulai dari peneliti hingga mahasiswa, tanpa memerlukan perangkat lunak nan rumit maupun skill pemrograman.
Mengapa Lokasi Fosil Perlu Dilacak Kembali?
Saat fosil ditemukan, koordinat nan tercatat hanyalah posisi di Bumi saat ini. Padahal, selama jutaan hingga ratusan juta tahun, lempeng tektonik terus bergerak sehingga benua mengalami pergeseran nan sangat besar.
Akibatnya, letak tempat organisme purba hidup sering kali berbeda jauh dari tempat fosilnya ditemukan sekarang. Untuk memahami gimana jenis berevolusi, bermigrasi, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, para intelektual perlu menghitung kembali posisi geografis fosil pada masa silam alias nan dikenal sebagai paleocoordinates.
Tanpa Coding, Hasil Keluar dalam Hitungan Detik
Selama ini, proses rekonstruksi paleokoordinat biasanya dilakukan menggunakan perangkat lunak unik seperti GPlates nan memerlukan pemahaman teknis cukup tinggi.
Melalui PACA, proses tersebut menjadi jauh lebih sederhana. Pengguna cukup mengunggah file CSV nan berisi koordinat letak fosil saat ini beserta usia geologinya. Dalam beberapa detik, sistem bakal menghitung kembali posisi fosil berasas model pergerakan lempeng tektonik nan telah digunakan secara luas dalam penelitian ilmiah.
Tak hanya menghasilkan koordinat, PACA juga menampilkan visualisasi interaktif dalam corak peta dan model Bumi tiga dimensi sehingga memudahkan pengguna memandang gimana posisi benua berubah sepanjang sejarah geologi.
Dapat Membandingkan Lima Model Tektonik Sekaligus
Salah satu kelebihan PACA adalah kemampuannya membandingkan hasil dari lima Global Plate Models (GPM) sekaligus, ialah PALEOMAP, GOLONKA, MERDITH2021, TorsvikCocks2017, dan MATTHEWS2016.
Dengan fitur tersebut, peneliti tidak hanya memperoleh satu hasil rekonstruksi, tetapi juga dapat memandang perbedaan prediksi antar model. PACA secara otomatis menghitung rentang paleolintang serta jarak maksimum antarprediksi sehingga tingkat ketidakpastian rekonstruksi dapat langsung diketahui.
Mendorong Penelitian nan Lebih Terbuka
Selain mudah digunakan, PACA dikembangkan dengan prinsip open science alias sains terbuka. Kode sumber aplikasi beserta skrip visualisasi tiga dimensinya tersedia secara publik sehingga dapat dipelajari maupun dikembangkan oleh organisasi ilmiah.
Dilansir dari Phys. pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi, reproduktibilitas penelitian, serta memperluas akses terhadap teknologi rekonstruksi paleogeografi bagi peneliti di seluruh dunia, termasuk mereka nan tidak mempunyai latar belakang komputasi.
Membuka Peluang Baru dalam Studi Evolusi
Kehadiran PACA diperkirakan bakal memberi akibat besar tidak hanya bagi paleontologi, tetapi juga bagian geologi, biogeografi, dan pengetahuan kebumian. Dengan mengetahui posisi original suatu fosil di masa lalu, intelektual dapat menyusun gambaran nan lebih jeli mengenai persebaran organisme purba, perubahan iklim, hingga dinamika pembentukan benua selama ratusan juta tahun.
Teknologi ini menjadi contoh gimana kemajuan komputasi dapat menyederhanakan pekerjaan ilmiah nan sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu. Kini, rekonstruksi sejarah Bumi dapat dilakukan lebih cepat, lebih mudah, dan lebih terbuka bagi siapa saja nan mau mempelajarinya.
Sumber: Phys








English (US) ·
Indonesian (ID) ·