Telur Ceplok vs Telur Dadar: Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Pakar

3 hari yang lalu 7
 Mana nan Lebih Sehat? Ini Penjelasan Pakar Ilustrasi(magnific)

MEMILIH antara telur ceplok alias telur dadar sering kali menjadi perdebatan, terutama bagi masyarakat nan sedang menjalani pola makan sehat. Meski keduanya berasal dari bahan nan sama, langkah pengolahan rupanya memberikan pengaruh pada nilai kalori nan dihasilkan.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi nan mencolok antara telur ceplok dan telur dadar. Perbedaan utamanya justru terletak pada aspek eksternal saat proses memasak.

"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi nan berarti. nan membedakan biasanya adalah kandungan lemak, berjuntai dari jumlah minyak nan digunakan untuk memasak," ujar Dr. Karina.

Risiko Kalori pada Telur Dadar

Dr. Karina menambahkan bahwa telur dadar mempunyai potensi kandungan kalori dan lemak nan lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh tekstur telur nan dikocok condong menyerap lebih banyak minyak dibandingkan telur ceplok.

Selain itu, kebiasaan menambahkan bahan pelengkap seperti keju, tepung, sosis, alias daging cincang secara otomatis bakal meningkatkan nilai daya pada hidangan tersebut.

Manfaat Proses Memasak terhadap Protein

Menariknya, proses pemanasan saat memasak telur justru memberikan akibat positif bagi kualitas protein. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi, sebuah proses nan membikin protein lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh manusia.

Kondisi Telur Daya Cerna & Penyerapan Protein
Telur Mentah Sekitar 51%
Telur Matang (Dimasak) Sekitar 91%

Namun, suhu memasak perlu diperhatikan. Dr. Karina menganjurkan suhu memasak berkisar antara 60–80 derajat Celsius. Pemanasan ekstrem di atas 150–160 derajat Celsius dalam waktu lama berisiko merusak sebagian masam amino dan menurunkan kualitas gizi telur secara keseluruhan.

Tips Konsumsi Sehat dan Mitos Kolesterol

Bagi mereka nan sedang menjaga berat badan, metode memasak tanpa minyak seperti merebus (boiled egg), poached egg, alias mengukus sangat disarankan.

Jika tetap mau mengonsumsi telur ceplok alias dadar, penggunaan minyak kudu dibatasi, misalnya dengan menggunakan wajan anti lengket alias minyak semprot (oil spray).

Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap kuning telur, Dr. Karina meluruskan dugaan bahwa bagian tersebut kudu dihindari lantaran kolesterol. Menurutnya, kuning telur justru kaya bakal vitamin dan mineral penting.

Catatan Pakar: Penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan akibat penyakit jantung. Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans nan dimakan berbarengan dengan telur, bukan dari telur itu sendiri.

Sebagai penutup, dia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, asalkan tetap memperhatikan langkah pengolahan nan tepat. (Z-1)

Selengkapnya