ilustrasi(Antara)
Telur ceplok dan telur dadar merupakan menu jagoan masyarakat Indonesia lantaran sifatnya nan sehat, murah, dan praktis. Meski keduanya berasal dari bahan utama nan sama, terdapat perbedaan karakter kandungan gizi nan muncul akibat proses pengolahannya.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum telur ceplok dan telur dadar mempunyai profil gizi nan nyaris serupa. Perbedaan signifikan biasanya hanya terletak pada kadar lemak dan kalori tambahan.
“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi nan berfaedah antara telur ceplok dan telur dadar. nan membedakan biasanya adalah kandungan lemak, berjuntai dari jumlah minyak nan digunakan untuk memasak,” ujar Karina dalam keterangannya, Sabtu (18/7).
Risiko Kalori pada Telur Dadar
Karina menyoroti bahwa telur dadar berpotensi mempunyai kandungan kalori dan lemak nan lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh tekstur telur dadar nan condong menyerap lebih banyak minyak saat digoreng dibandingkan telur ceplok.
Selain aspek minyak, penambahan bahan pelengkap juga memengaruhi nilai energi. Penggunaan keju, tepung, sosis, hingga daging cincang ke dalam adukan telur dadar secara otomatis bakal meningkatkan total kalori pada hidangan tersebut.
Manfaat Pemanasan terhadap Protein
Di sisi lain, Karina menerangkan bahwa proses memasak justru memberikan akibat positif terhadap kualitas protein telur. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi, sebuah proses nan membikin protein lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh manusia.
“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah nan daya serapnya hanya sekitar 51 persen,” jelasnya.
Namun, dia memberikan catatan krusial mengenai suhu memasak. Agar kualitas gizi tetap terjaga, suhu ideal nan dianjurkan berkisar antara 60–80 derajat Celsius. Pemanasan ekstrem di atas 150–160 derajat Celsius dalam waktu lama berisiko merusak sebagian masam amino esensial dalam telur.
Tips Memasak Telur Sehat:
- Gunakan wajan anti lengket alias minyak semprot untuk membatasi asupan lemak.
- Bagi nan menjaga berat badan, pilih metode tanpa minyak seperti merebus (boiled egg), mengukus, alias membikin poached egg.
- Hindari memasak telur hingga terlalu kering alias gosong untuk mencegah kerusakan nutrisi.
Klarifikasi Mengenai Kolesterol Kuning Telur
Karina juga meluruskan persepsi negatif masyarakat mengenai kuning telur nan sering dihindari lantaran kandungan kolesterolnya. Menurutnya, kuning telur justru merupakan sumber vitamin dan mineral krusial nan dibutuhkan tubuh.
Ia menegaskan bahwa berasas penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan akibat penyakit jantung secara langsung. "Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans nan dikonsumsi berbarengan dengan makanan sumber kolesterol," tambahnya.
Sebagai penutup, dia mengimbau masyarakat untuk tetap mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, dengan tetap memperhatikan teknik pengolahan nan tepat agar faedah kesehatannya optimal. (E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·