Tetap Waspada, Hal Ini Masih Jadi Ancaman Bagi Ekonomi RI

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia-Ekonom Senior Prasasti Center Piter Abdullah menilai gejolak dunia tetap menjadi tantangan besar bagi perekonomian Indonesia ke depan. Pemerintah diharapkan menyiapkan langkah mitigasi dengan tepat.

"Kita tahu bahwa gejolak dunia itu kan tetap belum selesai. Berbagai akibat di dunia tetap ada. Dan kemudian akibat di dalam negeri pun ya pasti ada, terutama mengenai misalnya dengan fiskal," ungkapnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2026)

Adapun diketahui ketegangan di Timur Tengah tetap kudu diwaspadai meskipun sudah sedikit mereda. Dunia sekarang juga dihadapkan pada suku kembang tinggi nan memungkinkan tarik menarik modal asing tetap bakal terjadi dalam waktu lebih lama.

Dampaknya bakal terlihat pada neraca perdagangan. Dalam dua bulan terakhir, neraca jual beli Indonesia sudah defisit. Begitu juga dengan neraca jasa sehingga neraca pembayaran Indonesia juga diperkirakan defisit ke depannya.

"Nah ini kan adalah risiko-risiko nan kudu kita antisipasi, lantaran jika kita bicara neraca pembayaran misalnya nan pasti kaitannya dengan rupiah, kita kan tetap dalam tekanan nan cukup besar. Nah risiko-risiko ini kudu diantisipasi, agar supaya tidak mengarah kepada beban alias tekanan nan lebih besar dalam perekonomian kita," papar Piter.

Masuknya aliran modal ke dalam negeri berangkaian dengan kepercayaan penanammodal terhadap kebijakan pemerintah dan lembaga mengenai lainnya. Imbal hasil juga kudu menarik sehingga penanammodal menancapkan dananya di Indonesia.

"Agar neraca modal dan finansial kita itu bisa kembali surplus untuk menutup defisit nan ada di current account. Nah dengan, dan ini adalah hanya bisa terjadi ketika trust dari penanammodal itu sudah sepenuhnya kembali, pulih," ujarnya.

Dengan demikian nilai tukar rupiah ke depan juga bakal menguat. Kini dolar Amerika Serikat (AS) tetap bertengger di kisaran Rp18.000.

"Saya kira nilai tukar kita bakal bisa kembali. Ya walaupun mungkin tidak cepat, tapi dia bakal mengarah kepada menuju kepada keseimbangan nan betul-betul mencerminkan nilai esensial dari rupiah kita," pungkasnya.

(chd/mij) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya