Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin (03/08/2026) menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran tetap terus berlangsung, meskipun pihak Teheran melontarkan sanggahan keras. Trump menegaskan bahwa Republik Islam tersebut sekarang tengah menghadapi "kesempatan terakhir sebelum pemenggalan".
Saat berbincang kepada para wartawan di Gedung Putih, Trump menyebut bahwa dia sepakat untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran atas permintaan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan negara-negara lainnya. Walaupun Kementerian Luar Negeri Iran membantah terjadinya negosiasi dengan Washington, Trump bersikeras bahwa pembicaraan tersebut memang sedang berlangsung.
"Kami sedang berbincang saat ini," ungkap Trump sebagaimana dikutip Reuters. "Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani arsip nan baik. Saya mau memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan".
Pembicaraan antara kedua belah pihak difokuskan pada upaya pembukaan kembali Selat Hormuz, nan menurut Trump dapat terjadi "secara harfiah besok", serta proses denuklirisasi Iran nan dinilai bakal "memakan waktu sedikit lebih lama". Washington dan Teheran telah berada dalam status perang sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, meskipun diplomasi nan terputus-putus selama beberapa bulan terakhir telah menghasilkan periode nan relatif tenang.
Lebih dari lima bulan kemudian, Iran dilaporkan tetap mempertahankan kemampuannya untuk menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke target-target milik AS maupun sekutunya di wilayah tersebut, serta tetap menguasai timbunan uranium nan telah diperkaya.
Selat Hormuz dan Bantahan Teheran
Selat Hormuz telah menjadi salah satu poin kebuntuan utama dalam beragam upaya untuk mengakhiri perang ini. Setelah kesepakatan gencatan senjata gagal, Iran kembali menerapkan blokade di jalur perairan tersebut, sebuah tindakan nan pertama kali mereka berlakukan di awal peperangan dengan menghalangi kapal-kapal nan melintas dan menembaki kapal-kapal komersial.
Sebelum perang pecah, terdapat kebebasan melintas melalui Selat Hormuz, namun sekarang Iran bersikeras untuk mempertahankan kendali dan memungut biaya, sebuah langkah nan secara tegas ditolak oleh Amerika Serikat. Teheran juga menolak mengizinkan kapal untuk menggunakan rute pelayaran lain selain rute nan menyusuri garis pantai Iran.
Trump menyebut pihak Teheran "bermuka dua" lantaran secara terbuka dan bangga menyatakan bahwa mereka tidak bernegosiasi. Melalui platform media sosial, Trump menulis bahwa AS pada faktanya sedang membicarakan solusi atas masalah nan telah ditimbulkan oleh Iran selama beberapa dekade, terlepas dari apakah Iran mau mengakuinya alias tidak.
Tidak ada nan bisa masuk ke Iran, selain kita menginginkannya, dan tidak ada nan bakal bisa masuk, selain sebuah Kesepakatan, alias Penyerahan Total, dicapai".
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa pihaknya saat ini tidak sedang bermusyawarah dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan, "Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz".
"Kesepahaman mengenai rute nan dapat diterima kedua belah pihak sudah nyaris tercapai berbareng Oman," tambah Baqaei.
Rute tersebut diharapkan dapat menghormati hak-hak kedaulatan serta menjaga kepentingan nasional dan keamanan kedua belah pihak, meskipun dia menegaskan bahwa kesepakatan semacam itu tidak berfaedah pembukaan kembali selat secara penuh.
Terkait rumor nuklir, Trump menegaskan kembali pada hari Senin bahwa perang ini diperlukan untuk menangani program nuklir Iran dan bahwa "denuklirisasi Iran kudu terjadi". Negara-negara Barat selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan peledak nuklir, meskipun Teheran terus berkeras bahwa program mereka sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·