Trump Klaim Publik Dukung Perang Iran, Survei Berkata Sebaliknya

2 jam yang lalu 4
Trump Klaim Publik Dukung Perang Iran, Survei Berkata Sebaliknya Ilustrasi(Anadolu)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim bahwa kebanyakan penduduk Amerika tidak keberatan dengan kebijakan pemerintahannya dalam bentrok militer melawan Iran. Trump berkilah perhatian utama masyarakat saat ini lebih tertuju pada lonjakan nilai bahan bakar daripada operasi militer nan sedang berlangsung.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, Kamis (23/7). Ia merujuk pada hasil jajak pendapat nan menurutnya menunjukkan masyarakat lebih mengkhawatirkan nilai bensin dibandingkan bentrok bersenjata.

"Rakyat Amerika tidak menentang perang. Sebuah jajak pendapat nan baru saja rilis menunjukkan penduduk AS tidak menginginkan nilai bensin nan tinggi, tetapi mereka tidak menentang perang," ujar Trump sebagaimana dilansir CNN.

Namun, klaim Trump tersebut bertolak belakang dengan info survei nasional Washington Post-Ipsos nan dirilis pekan lalu. Hasil survei menunjukkan kebanyakan responden justru tidak mendukung perang antara AS dan Iran. Sebanyak 68% responden menilai perang tersebut tidak layak dilakukan, sementara hanya 28% nan memberikan dukungan.

Selisih support sebesar 40 poin persentase ini tercatat lebih besar dibandingkan hasil survei mengenai perang Irak maupun Afghanistan di masa lalu. Data ini mengindikasikan penolakan luas masyarakat terhadap bentrok nan telah dimulai sejak akhir Februari tersebut.

Di sisi lain, ketenaran Trump dilaporkan terus merosot sejak AS berbareng Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Tekanan politik di Washington pun meningkat, dengan munculnya kembali seruan pemakzulan (impeachment) terhadap sang presiden dari sejumlah kalangan.

Kritik tidak hanya datang dari oposisi, tetapi juga dari sebagian pendukung Trump. Mereka menilai ekspansi keterlibatan militer di Timur Tengah mengingkari janji kampanye Trump untuk mengurangi intervensi luar negeri dan memprioritaskan kesejahteraan domestik.

Hingga saat ini, ketegangan terus meningkat seiring dengan operasi militer CENTCOM nan telah memasuki malam ke-12 berturut-turut, memicu kekhawatiran bakal akibat ekonomi dan stabilitas keamanan dunia nan lebih luas. (Anadolu/Fer/I-1)

Selengkapnya