Trump Usul Suriah Intervensi Libanon untuk Lucuti Hizbullah

1 jam yang lalu 3
Trump Usul Suriah Intervensi Libanon untuk Lucuti Hizbullah Donald Trump dan Ahmad Al-Sharaa.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pendapat kontroversial dengan menyarankan agar Suriah melakukan intervensi militer di Libanon untuk melucuti golongan Hizbullah. Pernyataan ini disampaikan Trump saat berjumpa dengan Panglima Angkatan Bersenjata Lebanon, Joseph Aoun, di Gedung Putih pada Selasa (21/7) waktu setempat.

Trump beranggapan bahwa pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa mempunyai kepentingan untuk menghadapi Hizbullah. "(Al-Sharaa) ingin masuk. Mereka telah bertempur melawan Hizbullah sejak lama. Saya pikir itu bakal sangat efektif," ujar Trump.

Perbedaan Pandangan di Internal AS

Meski Trump terus mendorong buahpikiran tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tampak meredam prospek intervensi militer langsung. Rubio menekankan bahwa konsentrasi utama Suriah saat ini semestinya pembangunan negara pascakonflik internal.

"Otoritas Suriah memang bukan fans Hizbullah, tetapi kami mendorong Suriah untuk konsentrasi pada tantangan internal mereka sendiri dalam membangun negara bangsa," kata Rubio kepada wartawan pada Rabu (22/7).

Hizbullah sebelumnya merupakan sekutu utama mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad sebelum dia digulingkan pada tahun 2024 oleh golongan pejuang nan dipimpin oleh al-Sharaa. Perubahan peta politik ini menciptakan permusuhan mendalam antara pemerintahan baru Damaskus dengan golongan nan didukung Iran tersebut.

Risiko Strategis dan Memori Kelam Pendudukan

Para analis memperingatkan bahwa kembalinya militer Suriah ke Libanon bisa menjadi bencana. Bassel Doueik, seorang peneliti keamanan, menilai intervensi tersebut bakal kontraproduktif secara strategis bagi otoritas baru Suriah.

"Hal itu bakal merusak upaya membangun hubungan stabil dengan negara Libanon dan justru memperkuat narasi Hizbullah sebagai golongan perlawanan nan memihak kedaulatan Libanon dari agresi asing," jelas Doueik.

Nanar Hawach, analis senior dari International Crisis Group, menambahkan bahwa kehadiran militer Suriah bakal membuka luka lama. Suriah pernah menduduki sebagian besar wilayah Libanon selama nyaris 30 tahun (1976-2005) sebelum akhirnya ditarik mundur akibat protes massal.

Konteks Sejarah: Hizbullah pernah membantu rezim Bashar al-Assad menumpas pemberontakan Suriah pada 2011, nan meninggalkan kebencian mendalam di kalangan rakyat Suriah nan sekarang berkuasa.

Taktik Tekanan Trump

Gagasan Trump muncul di tengah ketegangan nan meningkat antara Israel dan Hizbullah. Tentara Libanon sendiri baru saja mulai dikerahkan di area percontohan sesuai kesepakatan kerangka kerja nan ditengahi AS untuk mencegah Hizbullah membangun kembali kekuatannya di wilayah selatan.

Beberapa analis memandang komentar Trump sebagai strategi tekanan untuk mengguncang posisi Iran dan Hizbullah. Namun, solusi nan lebih realistis diyakini bukan melalui invasi, melainkan pengamanan perbatasan.

Souhaib Jawhar dari Badil Policy Institute menyarankan agar Suriah cukup memperketat kontrol di sisi perbatasan mereka sendiri. "Memperkuat kehadiran tentara Suriah di perbatasan, menutup terowongan penyelundupan, dan meningkatkan pertukaran info intelijen dengan tentara Lebanon adalah langkah nan lebih realistis dan dapat diterima secara politik," pungkasnya. (Al Jazeera/I-2)

Selengkapnya