ARTICLE AD BOX
loading...
Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dikritik oleh akademisi Rocky Gerung. Foto/SIndoNews
JAKARTA - Kritik itu perihal biasa, apalagi diranah akademik dan ruang publik . Sebab ruang akademik dan ruang publik memang sudah sepatutnya diisi dengan kritik agar tumbuh ide-ide baru alias pengganti pikiran baru nan memungkinkan buahpikiran tumbuh dan berkembang untuk menemukan jawaban atas beragam problem nan dihadapi masyarakat.
Tetapi kritik Rocky Gerung pada mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto nan beredar melalui video itu mengandung kekeliruan nan perlu dikritik karena lebih terlihat sebagai penghakiman dan menyudutkan Tiyo lantaran Rocky Gerung lebih sibuk mengkritik diksi satir nan Tiyo sampaikan bukan substansi nan ada dibalik satir simbolik nan Tiyo sebutkan ialah 'Prabodoh Subiantolol'. Rocky menyebut Tiyo Ardianto bodoh.
“Rocky mestinya membongkar buahpikiran dan argumen dibalik satir itu bukan menuduh Tiyo tolol dan tanpa argumen padahal Rocky belum menguji argumen, buahpikiran alias pikiran Tiyo di kembali satirnya,” ujar Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, Jumat (3/7/2025).
Baca juga: Pelaporan Tiyo Ardianto ke Polisi Upaya Mengalihkan Perhatian Publik
Diksi tersebut adalah satir. Rocky sibuk menghakimi diksi satir itu. Padahal diksi satir itu otoritas kreator satir. Ketika Tiyo menyebut diksi tersebut adalah bagian dari cerita dalam satir tersebut. Tiyo saat itu bercerita tentang kucing nan sakit luka nan lukanya diobati tetapi kucing itu justru marah mencakarya, kucing tidak bisa memahami bahwa obat tersebut bakal menyembuhkanya, kucing terus menerus mencakar, lampau Tiyo diakhir cerita memberinama kucing itu 'Prabodoh Subiyantolol'.
Diksi satir simbolik itu biasa dalam sastra kritis dan dia mempunyai ruang merdeka untuk disampaikan, apalagi di tengah situasi sosial politik nan penuh represi terhadap kritik. Tiyo tidak menyebut kucing itu berjulukan Prabowo Subianto.
Lihat video: Tiyo Diancam Hukuman, Bung Ray: Bukan Orang nan Berfikir Jangan Dihukum
”Saya kira saya perlu mengutip pandangan M. H. Abrams untuk mengkritik Rocky Gerung. Abrams adalah kritikus sastra legendaris nan menulis kitab berjudul A Glossary of Literary Terms. Ia mendefinisikan satire sebagai the literary art of diminishing or derogating a subject by making it ridiculous and evoking toward it attitudes of amusement, contempt, scorn or indignation,” ujarnya.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·