ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia- Ketidakpastian disebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto sebagai 'head wind" bagi perekonomian dunia termasuk Indonesia. Di masa ini, Indonesia tetap bisa menjaga daya tahan dan stabilitas nan tercermin dari inflasi nan terjaga di 3% pada April 2026 serta Indeks Keyakinan Konsumen di atas 100.
Neraca perdagangan tetap surplus dan PMI manufaktur relatif baik di 50 dan persediaan devisa sekitar USD 144 Miliar. Pemerintah juga meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bisa di atas 5% ditopang kuatnya konsumsi domestik dan investasi nan sesuai sasaran serta shopping pemerintah.
Jika pada Kuartal I-2026, momentum Ramadan dan Lebaran menjadi pendorong daya beli dan aktivitas ekonomi dan di semester II, momentum anak libur sekolah digelontorkan potongan nilai transportasi dan insentif aktivitas Nataru sehingga bisa konsumsi tetap tinggi.
Pemerintah juga memastikan alas ekonomi tetap dilanjutkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui support beras kepada 32,4 juta masyarakat dilanjutkan 3 bulan, begitu pula dengan subsidi kedelai untuk menjaga daya beli industri tahu-tempe serta program magang bagi fresh graduate selama 6 bulan.
Airlangga menyebut subsidi BBM juga menjadi upaya pemerintah menjaga inflasi imbas kenaikan nilai minyak mentah global. Selain itu pemerintah membebaskan bea impor untuk LPG sebagai pengganti Nafta dan produk plastik di industri petrokimia selama 6 bulan.
Seperti apa perkembangan ekonomi & strategi pemerintah menjaga ekonomi hadapi gejolak global? Selengkapnya simak perbincangan Shania Alatas dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto dalam Economic Update CNBC Indonesia (Senin, 29/06/2026)
Add
source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·