Webinar Internasional Refleksi 20 Tahun Sekolah Sukma Bangsa, Membangun Masa Depan Peradaban Pendidikan

3 jam yang lalu 4
Webinar Internasional Refleksi 20 Tahun Sekolah Sukma Bangsa, Membangun Masa Depan Peradaban Pendidikan Seminar internasional nan dipusatkan di Komplek Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

GENAP sudah 20 tahun usia mu hai Sekolah Sukma Bangsa, Aceh. Bayi peradaban bangsa ini lahir dari rahim Program "Indonesia Menangis Media Indonesia dan Metro TV". 

Dengan kehendak Ilahi, bayi brilian ini tumbuh besar berkah sumbangsih para cendikia Aceh, sejumlah tokoh Nasional dan bantuan publik. Embrio ini berasal dari bibit recovery musibah alam gempa bumi nan disusul tsunami 26 Desember 2004.  

Untuk mengisi refleksi dua dasawarsa sekolah berkarakter, cinta tenteram dan peduli lingkungan hidup itu, Yayasan Sukma pada Selasa (21/7) kemarin, menggelar Webinar Internasional. Seminar berjudul “Perspectives on Sukma Bangsa School: Two Decades of Transformative Education, Collaboration, and Global Citizenship” itu dipusatkan di Komplek Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. 

Lalu berjalan secara hybrid ini menghadirkan akademisi, praktisi pendidikan, serta mitra internasional dari beragam negara. Ini juga proyeksi masa depan pendidikan setelah dua dasawarsa perjalanan Sekolah Sukma Bangsa memanusiakan manusia.

Para pemateri akademisi, praktisi pendidikan, dan mitra internasional itu adalah para master alias akademisi dari Finlandia, Amerika Serikat, Jepang, Afrika Selatan, serta tokoh pendidikan lokal dan nasional. 

Lestari Moerdijat, Ketua Yayasan Sukma, dalam sambutannya mengatakan, Sekolah Sukma Bangsa dibangun bukan hanya merespon kondisi setelah musibah gempa bumi dan tsunami Aceh. Tapi juga sebagai investasi jangka panjang untuk membangun peradaban anak manusia.

“Sekolah Sukma Bangsa dibangun untuk melahirkan penduduk bumi nan bukan hanya bisa bersaing, tetapi juga bisa bekerja sama dengan manusia dari beragam bagian dunia," tutur Ibu Rerei, begitu Lestari Moerdijat berkawan dipanggil. 

Menurut Lestari nan juga Wakil Ketua MPR RI itu, pendidikan kudu menjadi ruang belajar bagi semua pihak, bukan hanya peserta didik. Guru, pengelola sekolah, yayasan, hingga mitra pendidikan kudu terus belajar dan bekerja-sama untuk menjawab tantangan dunia nan terus berkembang.

KISAH PERJALANAN
Pada kesempatan itu, Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi, juga mengisahkan perjalanan dua puluh tahun Sekolah Sukma Bangsa. Tidak dapat dipisahkan support para mitra serta sahabat pendidikan dari beragam negara dan bangsa di muka bumi.

“Dua puluh tahun Sukma Bangsa membuktikan pendidikan dibangun dengan ketulusan bisa melampaui pemisah geografi, budaya, apalagi negara.” kata Baedowi. 

Pemateri Akademisi asal Finlandia, Profesor Eero Ropo, mengku pentingnya pendidikan dalam menghadapi krisis suasana nan sekarang menjadi persoalan global. Bahkan telah meresahkan kehidupan di beragam bagian dunia. 

“Jika sekolah kandas mengajarkan kesadaran suasana hari ini, maka generasi mendatang bakal mewarisi masalah nan jauh lebih besar daripada nan kita hadapi sekarang," kata Prof Eero Ropo. 

Guru Besar dari Tempere University ini menuturkan, kurikulum masa depan tidak cukup hanya berisi pengetahuan. Tapi juga kudu membentuk kesadaran, identitas, dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan serta keberlangsungan kehidupan manusia hingga sekitarnya.

Sedangkan Tahir Schad, akademisi asal Amerika Serikat, mengapresiasi perjalanan Sekolah Sukma Bangsa telah bisa melewati dua dekade. “Warisan terbesar sebuah sekolah bukan gedungnya, melainkan manusia nan dibentuknya," jelas Tahir Schad,

Menurutnya, Sekolah Sukma Bangsa telah menunjukkan gimana menjadi ruang mempertemukan keberagaman, membangun kerjasama lintas budaya, dan memperkuat hubungan kemanusiaan antar bangsa.

Tanggapan positif dan inspiratif juga diungkapkan oleh Yuji asal Jepang. Guru Besar dari Negeri Matahari Terbit itu sangat positif terhadap refleksikan perjalanan panjang Sekolah Sukma Bangsa. Mulai awal pemulihan Aceh paska 26 Desember 2004 hingga saat sekarang .

“Dua puluh tahun, Sukma Bangsa telah berkembang dari sekolah pemulihan pascabencana menjadi sekolah nan menyiapkan pemasok perubahan dan perdamaian," ungkap Yuji. 

Menurutnya fase berikutnya adalah gimana Sukma Bangsa terus memperluas kontribusi dalam menjawab tantangan pendidikan global. Lalu memperkuat perannya di tengah masyarakat.

BUDAYA BELAJAR
Sedangkan pemateri nasional, Komaruddin Hidayat mengharapkan budaya belajar dimulai dari para pendidik. Pendidikan kudu membantu peserta didik memahami identitasnya sebagai bagian dari masyarakat Aceh, bangsa Indonesia, sekaligus penduduk bumi nan mempunyai tanggung jawab kemanusiaan.

“Guru berakhir belajar sesungguhnya sedang menutup masa depan murid-muridnya," kata Komarudin Hidayat. 

Anggapan tidak jauh berbeda juga dituturkan Guru Besar dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Prof Ahmad Humam Hamid. Menurutnya kehadiran Sekolah Sukma Bangsa bagian dari ikhtiar besar membangun kembali peradaban Aceh pascakonflik bersenjata dan pascatsunami nan meluluh lantakkan area pesisir setempat. 

“Aceh pernah diuji oleh bentrok dan tsunami. Sukma Bangsa datang untuk memastikan pendidikan menjadi jalan lahirnya peradaban nan lebih kuat," ujar Profesor Putra dari Ayah Hamid, Samalanga, Aceh itu. 

Sosiolog dari USK itu menegaskan,  kekuatan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari prestasi akademik. Tapi juga dari kemampuannya membentuk karakter dan integritas generasi muda.

Adapun pemateri lainnya adalah Dr Iryana dari Universitas Malikussaleh (UNIMAL) menekankan pentingnya sinergi antarlembaga pendidikan dalam membangun masa depan Aceh nan lebih baik. Tantangan pendidikan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja. 

Diperlukan kerjasama kuat antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan beragam pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap pendidikan nan berkualitas.

PENDIDIKAN NILAI LOKAL
Berikutnya Baiquni dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe mengingatkan pentingnya menjadikan nilai-nilai lokal sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan masa depan.

"Pendidikan nan kuat adalah pendidikan nan bisa berbincang dengan akar budayanya sendiri, sekaligus terbuka terhadap perkembangan dunia." kata Baiquni. 

Sesuai perspektif etnoteologi nan disampaikannya, kekayaan nilai, tradisi, dan kearifan lokal Aceh dapat menjadi modal krusial membangun pendidikan nan relevan. Kemudian berkarakter, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Terakhir pada sesi penutupan, Dewan Pengawas Yayasan Sukma, Samsir Alam, membujuk seluruh insan pendidikan untuk memastikan perubahan betul-betul terjadi di ruang kelas. “Transformasi pendidikan tidak lahir dari arsip kurikulum, tetapi dari apa nan terjadi setiap hari di ruang kelas," kata Sambil Alam. 

Pembelajaran nan berarti kudu bisa menghubungkan pengetahuan dengan budaya, sejarah, lingkungan, dan realitas kehidupan peserta didik sehingga pendidikan betul-betul menjadi sarana membangun peradaban nan lebih baik.

Sedangkan Ketua Panitia Webinar Internasional, Nadia Sabrina, juga mengharapkan aktivitas ini menjadi momentum krusial merefleksikan perjalanan Sekolah Sukma Bangsa. Kemudian memperkuat jejaring kerjasama dunia nan telah dibangun selama ini.

Kehadiran para pembicara dari beragam negara menunjukkan bahwa pendidikan adalah kerja berbareng nan melampaui pemisah wilayah dan latar belakang.

“Semangat nan mau kami rayakan pada usia ke-20 ini adalah istiqamah dalam belajar, berkolaborasi, dan terus menghadirkan faedah bagi masyarakat," demikian Nadia berharap. 

Sebagaimana di ketahui lembaga pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA itu di bangun masing-masing satu genting (satu unit). Yakni satu kampus di Kabupaten Pidie, satu komplek di Kabupaten Bireuen dan satu lagi di Kota Lhokseumawe. 

Selama dua dekade, Sukma Bangsa telah berkembang dari sekolah nan lahir pascakonflik dan tsunami Aceh menjadi lembaga pendidikan nan terus membangun kerjasama dunia demi menghadirkan pembelajaran nan berarti bagi generasi masa depan. (E-2) 

Selengkapnya