140 Tahun Perkeretaapian di Sumut, Dari Jalur Perkebunan Menjadi Penggerak Konektivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Baru

2 jam yang lalu 4
140 Tahun Perkeretaapian di Sumut, Dari Jalur Perkebunan Menjadi Penggerak Konektivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Baru Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERKERATAAPIAN di Sumatera Utara hari ini genap berumur 140 tahun. Tonggak sejarah ini menandai perjalanan panjang sejak pengoperasian jalur kereta api pertama di Pulau Sumatera nan menghubungkan lintas Medan–Labuhan pada 25 Juli 1886.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menegaskan bahwa perjalanan lebih dari satu abad ini menjadi bukti ketahanan dan adaptabilitas transportasi rel di wilayah Sumatera Utara.

"Setelah 140 tahun, perkeretaapian di Sumatera Utara tidak hanya memperkuat tetapi juga bertransformasi. Dari berfokus sebagai pikulan komoditas di awal operasionalnya, sekarang berkembang menjadi sarana mobilitas favorit masyarakat Sumatera Utara," kata Anwar, Sabtu (25/7). 

Anwar menjelaskan, sejarah panjang perkeretaapian di Sumut bermulai dari pesatnya industri perkebunan pada akhir abad ke-19, khususnya komoditas unggulan tembakau Deli. Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 1883 untuk membangun jaringan rel guna menghubungkan area perkebunan dengan Pelabuhan Belawan. Seiring waktu, jaringan tersebut meluas menembus Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, hingga Rantau Prapat.

Pada masa kejayaannya hingga tahun 1937, total panjang jalur kereta api nan beraksi di Sumatera Utara sempat mencapai 553 kilometer. Namun, pada perkembangannya sejumlah jalur bagian seperti ke arah Deli Tua, Bangun Purba, dan Pangkalan Brandan ditutup seiring menyusutnya lahan perkebunan nan berakibat pada penurunan permintaan muatan komoditas. Pasca kemerdekaan dan proses nasionalisasi perusahaan Belanda, Pengelolaan perkeretaapian ini kemudian sepenuhnya berada di bawah kendali PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Saat ini, jaringan kereta api nan aktif beraksi di Sumatera Utara membentang sepanjang 476,46 kilometer. Jaringan modern tersebut tidak hanya melayani lintas utama, tetapi juga mencakup jalur bagian KA Bandara Kualanamu nan beraksi sejak 2013. Di samping itu, konektivitas rel juga telah terintegrasi menuju Pelabuhan Kuala Tanjung serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei sejak 2022 guna memperlancar pengedaran bahan baku dan hasil industri daerah.

Pengembangan prasarana nan terintegrasi tersebut berbanding lurus dengan keahlian operasional jasa nan terus bertumbuh positif. Di sektor pikulan penumpang, KAI Divre I Sumut mencatat tren kenaikan nan konsisten. Pada tahun 2024, KAI melayani 2,43 juta pelanggan, nan kemudian meningkat menjadi 2,63 juta pengguna pada tahun 2025. Tren positif ini bersambung hingga Semester I 2026 dengan volume penumpang telah menembus 1,39 juta orang dan diproyeksikan terus bertambah hingga akhir tahun.

Sementara pada sektor logistik dan pikulan barang, KAI membukukan volume sebesar 883.661 ton pada 2024, 685.355 ton pada 2025, dan 387.895 ton sepanjang Semester I 2026. Fluktuasi volume pikulan peralatan ini dipengaruhi oleh dinamika permintaan pasar domestik maupun dunia serta rantai pasok industri.

"Peningkatan jumlah penumpang dari tahun ke tahun membuktikan semakin tingginya kepercayaan publik terhadap kereta api sebagai moda transportasi nan aman, nyaman, tepat waktu, dan ramah lingkungan. Di sisi lain, pikulan peralatan tetap menjadi tulang punggung logistik nan strategis bagi perekonomian daerah," tambah Anwar.

Memasuki usia ke-140 tahun, KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus berinovasi dan memperkuat interkoneksi antarwilayah guna mendukung aksesibilitas menuju pusat pertumbuhan ekonomi baru.

"Kami berkomitmen memastikan kereta api tetap menjadi pilihan transportasi jagoan nan berkontribusi nyata dalam memperkuat konektivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara," pungkasnya. 

Selengkapnya