ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump memanfaatkan seremoni Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) sekaligus peringatan 250 tahun berdirinya negara itu untuk menyampaikan pidato bernuansa kampanye.
Dalam pidato di National Mall, Washington, Sabtu (5/7/2026), Trump mengingatkan ancaman kebangkitan komunisme di AS. Ia juga mendorong pembatasan patokan pemungutan suara, hingga kembali menonjolkan beragam pencapaian pemerintahannya.
Setelah aktivitas sempat tertunda nyaris dua jam akibat badai, Trump tampil di hadapan ribuan pendukung dengan pidato nan memadukan pesan patriotisme dan kritik terhadap ancaman ideologis.
"Kita mau menghentikan ancaman seperti itu segera, sebelum dimulai. Itu seperti kanker. Anda kudu memotongnya dan Anda kudu memotongnya dengan cepat," kata Trump saat memperingatkan ancaman komunisme di Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters, Senin (6/7/2026).
Dalam pidatonya, Trump juga menyinggung sederet pencapaian Amerika, mulai dari kemenangan dalam beragam perang, pendaratan di bulan, hingga keberhasilan Wright berkerabat membuka era penerbangan modern.
Di sisi lain, dia kembali mendesak Kongres segera meloloskan rancangan undang-undang nan memperketat sistem pemilu, termasuk membatasi pemungutan bunyi melalui pos serta mewajibkan bukti kebangsaan bagi pendaftar pemilih.
Trump turut mengulang klaim bahwa pemerintahannya telah "menghancurkan" keahlian militer Iran. Menurutnya, beragam langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kekuatan dan keamanan Amerika di tengah meningkatnya tantangan dari dalam maupun luar negeri.
Pidato tersebut berjalan kurang dari 40 menit, meski sebelumnya Trump sempat berkelakar bakal memberikan "pidato nan sangat panjang hanya untuk menunjukkan bahwa saya dapat melakukan apa saja." Acara sendiri sempat dihentikan sementara ketika angin besar petir memaksa para visitor berlindung di museum dan gedung pemerintah sebelum akhirnya diizinkan kembali ke lokasi.
Perayaan tahun ini juga diwarnai kehadiran golongan nasionalis kulit putih Patriot Front nan berbanjar di ibu kota Washington. Kepolisian setempat menyatakan tidak menerima laporan adanya kejadian kekerasan selama aktivitas berlangsung.
Peringatan 250 tahun Amerika turut menjadi arena promosi program Freedom 250, inisiatif pemerintahan Trump nan menggelar "Great American State Fair" di area National Mall. Menurut penyelenggara, pameran tersebut bermaksud menampilkan penemuan dan tokoh-tokoh nan menjadikan Amerika sebagai "negara terhebat di Bumi."
Namun, rangkaian seremoni itu menuai kritik. Sejumlah negara bagian nan dipimpin Partai Demokrat memilih tidak mengirim delegasi, sementara beberapa penampil membatalkan partisipasi dengan argumen cemas aktivitas tersebut terlalu sarat kepentingan politik.
Kritik serupa juga muncul terhadap program "Freedom Trucks" nan dinilai hanya menampilkan jenis sejarah Amerika nan terlalu religius dan mengabaikan rumor perbudakan maupun ketidakadilan rasial.
Sejalan dengan itu, jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan kebanyakan penduduk Amerika menilai peringatan 250 tahun kemerdekaan telah menjadi terlalu politis. Pandangan tersebut apalagi didukung sekitar tiga perempat responden dari Partai Demokrat dan sekitar separuh responden dari Partai Republik.
(tfa/tfa)
Addsource on Google

22 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·