Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga sekarang belum menunjukkan tanda-tanda bakal meningkatkan tekanan besar terhadap Nikaragua, meski Presiden Daniel Ortega baru-baru ini menyatakan bakal mengakhiri penyelenggaraan pemilu. Sikap Washington itu berbeda dengan pendekatannya terhadap Kuba dan Venezuela, nan dalam beberapa bulan terakhir menjadi sasaran tekanan politik dan ekonomi lebih agresif.
Profesor Departemen Studi Global Universitas California, Santa Barbara, Kai Thaler, menilai perhatian Washington terhadap Nikaragua tetap kalah dibanding Kuba maupun Venezuela.
"Bagi Marco Rubio, Kuba jauh lebih krusial daripada Nikaragua. Selain itu, Nikaragua tidak mempunyai sumber daya alam seperti Venezuela," ujar Thaler, seperti dikutip CNN International, Jumat (24/7/2026).
Beberapa hari setelah operasi AS terhadap Venezuela pada awal tahun ini, Nikaragua justru mengambil sejumlah langkah nan dianggap sebagai sinyal positif kepada Washington. Pemerintah Managua membebaskan puluhan tahanan nan sebelumnya diminta AS untuk dilepas, serta kembali memberlakukan persyaratan visa bagi penduduk Kuba guna membatasi arus migrasi menuju Amerika Utara. Di sisi lain, AS tetap menjatuhkan hukuman baru pada April lampau terhadap dua putra Ortega dan Wakil Presiden Rosario Murillo.
Menurut analis politik sekaligus Direktur Program Migrasi, Pengiriman Uang, dan Pembangunan di Inter-American Dialogue, Manuel Orozco, Washington sengaja menghindari intervensi langsung lantaran cemas memicu gelombang migrasi maupun represi politik.
"Salah satu interpretasinya adalah bahwa stagnasi politik dalam kediktatoran Ortega-Murillo pada akhirnya bakal memicu bentrok internal, perlambatan ekonomi, dan kemungkinan protes sosial nan bisa dimanfaatkan AS. Namun jika kombinasi tangan dilakukan sekarang, dampaknya terhadap transisi politik tidak dapat diprediksi," katanya.
Orozco menambahkan rezim Sandinista nan berkuasa sejak 2007 saat ini belum menghadapi tekanan ekonomi maupun gejolak sosial nan signifikan. Karena itu, intervensi langsung AS justru berpotensi memaksa proses transisi nan belum tentu melangkah sesuai angan Washington.
Sementara itu, Ortega tetap melontarkan kritik keras terhadap AS. Pada April lampau dia menyebut hukuman terhadap anak-anaknya sebagai tindakan "gila secara mental", kemudian mengecam penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai sebuah "monstrositas". Namun, Thaler menilai sikap tersebut menunjukkan pemerintah Nikaragua merasa cukup kondusif lantaran percaya Washington belum menjadikan negaranya sebagai prioritas utama.
Orozco menilai retorika anti-AS Ortega lebih ditujukan untuk konsumsi politik domestik. "Ini simbolis bagi pedoman internal untuk menunjukkan bahwa mereka tetap anti-imperialis. Kenyataannya berbeda lantaran nyaris tidak ada ekspresi solidaritas nyata terhadap Venezuela maupun Kuba dalam kebijakan luar negeri Nikaragua," ujarnya.
Kedua analis memperkirakan AS bakal lebih konsentrasi pada strategi tekanan jangka panjang menjelang pemilu nan secara teori dijadwalkan berjalan pada November 2027, andaikan Ortega tidak betul-betul membatalkan pemilu tersebut. Menurut Orozco, hukuman nan dijatuhkan Washington bermaksud mempersempit ruang mobilitas rezim sembari mendorong reformasi politik secara bertahap.
Di sisi lain, kesempatan perubahan kekuasaan dari dalam rezim juga dinilai tetap kecil. Thaler mengatakan Rosario Murillo sekarang memegang peran politik nan semakin dominan seiring menurunnya aktivitas publik Ortega nan sekarang berumur 80 tahun.
Meski terdapat spekulasi mengenai kemungkinan suksesi keluarga, termasuk kepada putra mereka Laureano Ortega, para analis menilai skenario paling realistis dalam waktu dekat tetap berupa keberlanjutan pemerintahan Ortega-Murillo dengan kontrol kuat atas abdi negara keamanan dan lembaga negara.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·