ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Lesunya kondisi ekonomi Indonesia cukup tergambarkan dari kejadian sedikitnya jumlah pekerja nan bekerja di beragam sektor usaha. Fenomena seperti itu juga terjadi di gerai restoran makanan siap saji hingga toko mebel.
Berdasarkan hasil pandangan mata CNBC Indonesia pada Kamis lampau (2/7/2026), terdapat salah satu toko makanan siap saji di area Blok M, Jakarta Selatan terlihat sunyi dan meja nan terisi hanya beberapa saja. Tak hanya itu, jumlah pelayannya hanya satu orang saja. Ia bekerja sebagai kasir, penyaji, hingga pengantar makanan.
Dari situ, pelayan tersebut rupanya merangkap beragam macam tugas dalam satu periode kerja nan sebenarnya bisa dilakukan oleh beberapa orang karyawan. Akan tetapi, beberapa tugas tadi sekarang hanya dilakukan oleh satu tenaga kerja saja.
Bukan hanya di restoran sigap saji, kejadian irit tenaga kerja juga terjadi di toko furnitur. Dalam konteks ini, CNBC Indonesia memandang para pekerja aktif mengangkut dan merapikan barang-barang furnitur. Di samping itu, mereka juga merangkap sebagai informan bagi calon pembeli nan berjamu ke toko.
Bahkan, beberapa dari mereka juga melakukan pengecekan kondisi peralatan dan melakukan perbaikan pada beberapa peralatan nan rusak. Alhasil, kebanyakan pekerja mebel tersebut menjalani pekerjaannya dengan multitasking. Ternyata, kondisi ini erat kaitannya dengan penurunan penjualan furnitur beberapa waktu terakhir, sehingga sejumlah toko melakukan efisiensi operasional dan tenaga kerja.
Sebagai contoh, salah satu pedagang mebel jejak di Manggarai, Jakarta Selatan nan berjulukan Abdul mengaku bahwa omzet penjualannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi nasional nan membikin permintaan masyarakat lesu.
Suasana mebel jejak di area Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist) Foto: Suasana mebel jejak di area Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist)
"Sekitar 50% ada jika pedagang-pedagang furnitur. Kalau per hari kadang-kadang laku, kadang-kadang enggak, paling laku taruh lah bangsa 2 alias 1," ujar dia.
Pada akhirnya, tenaga kerja toko pun terpaksa dikurangi dari nan tadinya bisa mencapai enam orang sekarang hanya sisa dua orang saja. Saat ini, toko tersebut memberikan bayaran kepada tenaga kerja melalui dua skema, ialah harian dan mingguan di kisaran Rp 150 ribu per hari alias Rp 1,05 juta per minggu.
"Kalau ginian kan nawarin-nawarin (langsung) enggak bisa, kadang-kadang larinya ke online (karena lebih murah dan bisa dapat baru)," jelasnya.
Meski menghadapi persaingan ketat dengan toko online, Abdul tetap optimis minat masyarakat untuk membeli furnitur secara langsung tetap ada. Sebab, calon pembeli bisa memandang langsung dan ada garansi.
Beranjak ke tenaga kerja toko mebel berikutnya, Sandi mengaku aktif menjual beragam produk furnitur bekas. Mayoritas peralatan tersebut tadinya berasal dari sejumlah instansi nan sekarang sudah tidak beraksi alias telah mengganti furnitur. Tak hanya sekadar menjual, dia juga memberikan agunan produk mulai dari tiga bulan sejak awal pembelian.
Terlepas dari itu, Sandi menyebut, produk furniturnya tetap susah terjual. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan dari masyarakat.
Seiring lesunya penjualan, toko mebel tempat Sandi bekerja juga terpaksa melakukan beragam efisiensi. Kini, sehari-hari Sandi hanya ditemani oleh satu orang rekannya.
Di toko tersebut, tugas Sandi bukan hanya menjual furnitur tetapi juga mengelola toko sampai menyediakan jasa perbaikan.
"Jasa perbaikan di kisaran Rp 200 ribu dan bisa lebih tergantung kondisi kerusakan dari furnitur," ujarnya.
(wur/wur)
Addsource on Google

12 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·