Ilustrasi sistem bintang asing CD-35 2722, objek di latar depan adalah katai cokelat, objek di latar belakang adalah bintang, tetapi apakah barang di tengah itu sebuah exomoon?(Robert Lea (dibuat dengan Canva))
SEJAK penemuan planet di luar Tata Surya (eksoplanet) pertama pada era 1990-an, katalog astronomi telah berkembang pesat hingga mencakup ribuan objek. Namun, keberadaan bulan nan mengorbit planet-planet tersebut, nan dikenal sebagai eksobulan, hingga sekarang tetap menjadi misteri dan belum pernah terkonfirmasi secara pasti.
Kini, penantian panjang tersebut memasuki babak baru nan penuh teka-teki. Menggunakan Very Large Telescope (VLT), para astronom sukses mendeteksi sebuah objek misterius di sistem bintang CD-35 2722. Objek ini berpotensi menjadi eksobulan pertama, alias justru barang langit unik nan memaksa para intelektual meninjau ulang arti planet dan bulan.
Sistem CD-35 2722 terletak sekitar 73 tahun sinar dari Bumi. Bintang utamanya mempunyai massa sekitar separuh dari massa Matahari. Bintang tersebut dikelilingi oleh sebuah katai cokelat (brown dwarf) alias "bintang gagal", ialah objek nan terbentuk seperti bintang tetapi tidak mempunyai cukup massa untuk memicu reaksi fusi nuklir di intinya. Secara massa, katai cokelat berada di antara planet gas raksasa dan bintang terkecil, dengan berat 13 hingga 80 kali massa Yupiter.
Hal nan membikin penemuan ini unik adalah objek baru tersebut mengorbit sang katai cokelat, bukan mengorbit planet seperti halnya bulan di Tata Surya kita.
"Sistem ini agak susah didefinisikan menggunakan kata-kata berbasis tata surya seperti 'planet' dan 'bulan'. Eksosatelit ini jelas cukup masif untuk menjadi sebuah planet, tetapi dia tidak mengorbit bintang, melainkan mengorbit objek nan mengorbit bintang," ujar Kevin Hoy, pemimpin tim peneliti dari Universidad Diego Portales dan Millennium Nucleus of Young Exoplanets and their Moons (YEMS) di Cile.
Hoy menambahkan bahwa keberadaan objek ini memberikan tantangan tersendiri bagi pengelompokan barang langit. "Menjadi 'roda ketiga' dalam sistem ini membikin kita mau menyebutnya sebagai bulan, meskipun dia sama sekali tidak seperti bulan-bulan mini berbatuan nan ada di sistem kita," tuturnya.
Penelitian nan dipublikasikan dalam jurnal Nature ini mengategorikan objek tersebut sebagai eksosatelit. Istilah ini digunakan lantaran para peneliti belum dapat mengonfirmasinya secara pasti sebagai eksobulan sebelum adanya arti baru nan disepakati.
Anggota tim peneliti, Alice Zurlo dari Universidad Diego Portales, menjelaskan kompleksitas penemuan ini. "Satelit nan kami laporkan adalah barang gas raksasa nan mengorbit pendamping nan sangat masif, nan dirinya sendiri berukuran beberapa kali massa Yupiter. Kita mempunyai pemisah nan jelas antara planet dan mentari di tata surya, sehingga mendefinisikan hal-hal seperti bulan menjadi sederhana," jelas Zurlo.
"Dalam sistem CD-35 2722, tempat kita mengaburkan pemisah antara bintang, planet, dan bulan, seluruh penjelasan menjadi lebih rumit," lanjutnya.
Meskipun klasifikasinya tetap diperdebatkan, penemuan eksosatelit ini menjadi langkah awal nan krusial. Ke depannya, pembangunan Extremely Large Telescope (ELT) di Cile diharapkan bisa membantu menguak rahasia eksobulan dan eksosatelit lainnya di alam semesta. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·