Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

1 jam yang lalu 3

loading...

Moh Purwadi Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Foto/SindoNews

Moh Purwadi
Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

SAYA tetap ingat betul gimana kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Duduk di barisan depan, mendengarkan ustad berceramah dengan khusyuk. Suara ustad menggema di antara tembok masjid nan tua. Jemaah mengangguk-angguk, kadang menangis, kadang tersenyum. Itulah dakwah, pertemuan langsung antara penceramah dan pendengar, antara hati dan hati.

Sore ini, di sebuah caffee, saya memandang pemandangan nan sangat berbeda. Seorang pemuda duduk sendirian, ponsel di tangan, earphone di telinga. Layar ponselnya menampilkan seorang ustaz dengan busana rapi, berbincang di studio dengan latar belakang hijau. Pemuda itu tersenyum, sesekali mengangguk, lampau melanjutkan scrolling ke video berikutnya.

Dakwah telah bermigrasi. Dari mimbar ke layar. Dari masjid ke genggaman. Dan pertanyaannya sekarang: apakah pesan nan sampai tetap sama?

Dunia nan Berubah

Angka-angka berbincang dengan keras. Laporan We Are Social (2025) mencatat pengguna internet di Indonesia telah melampaui 220 juta orang, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari. Tiga jam sehari. Dalam setahun, itu berfaedah lebih dari 45 hari penuh tanpa tidur, hanya untuk menggulir layar.

Di sinilah dakwah menemukan panggung barunya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi mengatakan, audiens umat sekarang sudah berubah total. "Mereka adalah anak muda, Generasi X, milenial, Z, hingga Generasi Alpha. Mereka semuanya digital native, sementara kami golongan tua nan imigran digital. Gap ini kudu diatasi," ujarnya.

Tapi gap itu bukan sekadar masalah teknis, siapa nan bisa mengunggah video dan siapa nan tidak. Ia adalah masalah peradaban. Cara orang mencari kepercayaan telah berubah. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen populasi Indonesia sekarang didominasi oleh generasi muda nan sebagian besar memperoleh pemahaman keagamaan dari ruang digital, bukan dari lembaga otoritatif. "Sekarang fenomenanya anak muda belajar kepercayaan bukan lagi dari ustaz alias lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma," kata Masduki.

Bayangkan. Seorang anak di Sumatera bisa membentuk pemahaman keagamaannya bukan dari pembimbing ngajinya, bukan dari kitab kuning nan diajarkan kiai, melainkan dari video viral nan muncul di beranda TikTok-nya. Pertanyaan nan diajukan bukan lagi kepada ustaz di masjid, melainkan ke mesin pencarian.

"Sekarang fenomenanya anak muda belajar kepercayaan bukan lagi dari ustaz alias lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian alias media sosial. Ini kejadian baru nan berpotensi rawan lantaran algoritma itu perangkat nan tekstual, memotong ayat tanpa konteks," tegas Masduki.

Selengkapnya