Gambaran Ekonomi RI di Pertengahan 2026: Alarm Mulai Berdering

4 jam yang lalu 3
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Indonesia sepanjang semester I-2026 tetap menunjukkan ketahanan nan kuat. Pertumbuhan ekonomi bisa melaju 5,61% pada kuartal I-2026, menjadi salah satu nan tertinggi di antara negara-negara G20 maupun area Asia.

Namun, di kembali pertumbuhan nan solid tersebut, sejumlah parameter ekonomi mulai memberikan sinyal kewaspadaan. Inflasi mendekati pemisah atas sasaran pemerintah, neraca perdagangan mencatat defisit pertama dalam enam tahun, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS, hingga sektor manufaktur kembali masuk ke area kontraksi.

CNBC Indonesia mencoba menguak kembali kondisi ekonomi Indonesia melalui data-data sepanjang semester I-2026. Berikut ini rangkumannya:

Rekor Pertumbuhan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, tertinggi sejak kuartal III-2022 nan mencapai 5,73%. Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar nilai konstan mencapai Rp3.447,7 triliun, sementara berasas nilai bertindak mencapai Rp6.187,2 triliun.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan pertumbuhan ekonomi terutama ditopang konsumsi rumah tangga nan berkontribusi 54,36% terhadap PDB dan tumbuh 5,52%.

"Seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif. Kontribusi terbesar konsumsi RT sebesar 54,36% dan tumbuh 5,52%," ujarnya.

Konsumsi rumah tangga terdorong momentum Lebaran, mobilitas masyarakat, serta peningkatan aktivitas sektor restoran, hotel, transportasi, dan komunikasi. Selain konsumsi rumah tangga, investasi alias Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 5,96% dengan kontribusi 28,29% terhadap PDB.

"Total kontribusi keduanya adalah 82,65% terhadap total PDB," kata Amalia.

Dari sisi lapangan usaha, nyaris seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif selain pertambangan serta pengadaan listrik dan gas.

Meski ekonomi tumbuh kuat, tekanan inflasi mulai meningkat seiring akibat kenaikan nilai daya dunia akibat bentrok di Timur Tengah.

Catatan Laju Inflasi

BPS mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei nan sebesar 0,28%.

Secara tahunan, inflasi mencapai 3,34%, mendekati pemisah atas sasaran pemerintah sebesar 3,5%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan golongan transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,28%.

"Terjadi inflasi sebesar 0,44%," kata Ateng.

Kenaikan nilai BBM non-subsidi menjadi aspek utama pendorong inflasi transportasi.

"Inflasi pada golongan transportasi ini disumbang kenaikan bensin, tarif pikulan udara dan juga pelumas alias oli mesin," ujarnya.

Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah mulai memberi peringatan terhadap potensi kenaikan nilai pangan.

"Kita kudu waspadai terutama untuk volatile food. Karena kan terdampak dengan musim dan sebagainya," ujar Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.

Rekor Surplus 72 Bulan Berakhir

Di tengah perekonomian Indonesia nan solid, rupanya ada sirine datang dari sektor eksternal. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini menjadi defisit pertama setelah Indonesia menikmati surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit terjadi lantaran nilai ekspor hanya mencapai US$23,20 miliar, sementara impor melonjak menjadi US$24,81 miliar. Ateng menjelaskan defisit terutama berasal dari sektor migas nan mencatat defisit US$3,76 miliar.

Impor migas tercatat mencapai US$4,51 miliar alias melonjak 70,78% secara tahunan. Kondisi ini diperkirakan bakal menambah tekanan terhadap transaksi melangkah Indonesia nan sebelumnya telah berada dalam area defisit.

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi melangkah mencapai US$4 miliar alias 1,1% terhadap PDB pada kuartal I-2026, lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$2,47 miliar. Tekanan juga terlihat pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) nan mencatat defisit US$9,1 miliar pada kuartal I-2026.

Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS

Tekanan eksternal juga tercermin pada nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Senin (6/7/2026), rupiah sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum ditutup di Rp17.985 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan haji, pembayaran dividen korporasi, hingga perpindahan biaya penanammodal dunia ke aset kondusif alias safe haven.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan kejadian fly to quality sedang terjadi di pasar global.

"Kita menghadapi situasi dimana fly to quality itu bakal terjadi ke US dollar capital outflow juga bakal terjadi dan itu sudah kita alami," ujar Destry.

Menurutnya, ketidakpastian dunia akibat bentrok Timur Tengah mendorong penanammodal menarik biaya dari negara berkembang dan mengalihkan aset ke dolar AS.

PMI Manufaktur Masuk Zona Kontraksi

Alarm selanjutnya datang dari sektor manufaktur. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026, menandakan sektor manufaktur kembali berada di area kontraksi. Angka tersebut menjadi nan terendah dalam setahun terakhir. S&P menyebut penurunan permintaan menjadi penyebab utama pelemahan manufaktur Indonesia.

"Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas peralatan manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun," tulis S&P.

Penurunan permintaan membikin perusahaan mengurangi produksi selama empat bulan berturut-turut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelemahan PMI terutama dipicu gangguan rantai pasok global.

"Itu mengenai dengan supply chain. Jadi supply chain sangat terganggu, dan kita memang Indonesia dapatnya lagging. Jadi telat untuk terganggunya," ucap Airlangga.

Meski demikian, pemerintah tetap memandang prospek manufaktur relatif positif dalam 12 bulan ke depan.

"Tapi jika kita lihat outlook 12 bulan ke depan sih relatif mereka lebih optimis," kata Airlangga.

Dari info di atas, sejumlah parameter memang mulai menunjukkan tekanan terhadap perekonomian nasional. Namun, pertumbuhan ekonomi nan tetap di atas 5%, konsumsi domestik nan kuat, serta prospek investasi nan tetap positif menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap relatif terjaga.

Kendati demikian, kombinasi inflasi nan meningkat, defisit perdagangan, pelemahan rupiah, dan kontraksi manufaktur menjadi sinyal nan perlu diwaspadai pemerintah pada paruh kedua 2026, terutama jika ketidakpastian dunia dan gejolak nilai daya kembali meningkat.

(ras/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya