(MI/Seno)
PERLAWANAN terhadap neoliberalisme dalam pendidikan perlu memandang perspektif lokal, nasional, dan dunia untuk dapat membangun sistem pendidikan nasional nan lebih bermutu. Dari perspektif lokal, neoliberalisme dalam pendidikan perlu dikritisi andaikan mengabaikan budaya, kearifan lokal, bahasa daerah, serta nilai-nilai gotong royong nan menjadi identitas organisasi dan sekolah.
Sistem pendidikan dalam perspektif nasional kudu tetap berdasarkan Pancasila, UUD Negara RI 1945, dan tujuan pendidikan nasional sehingga pendidikan tidak direduksi hanya menjadi sarana mencetak SDM nan kompetitif secara ekonomi. Sementara itu, dari perspektif global, pendidikan perlu mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan pengetahuan pengetahuan, teknologi, dan ekonomi bumi tanpa kehilangan komitmen pada kewenangan asasi manusia, keadilan sosial ekologis, keberlanjutan, dan perdamaian.
Oleh lantaran itu, nan perlu dilawan bukanlah keterbukaan terhadap inovasi, pasar, alias kerja sama global, melainkan kekuasaan logika neoliberalisme ketika nilai efisiensi, kompetisi, dan untung ekonomi menggeser tujuan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia secara holistis.
Sistem pendidikan nasional perlu membangun keseimbangan antara daya saing global, jati diri bangsa, dan penguatan organisasi lokal agar menghasilkan manusia nan unggul sekaligus berkarakter, berbudaya, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan.
Perlawanan terhadap kekuasaan logika neoliberalisme dalam pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas nan sederhana. Guru menghidupkan harapan, bukan sekadar mengejar target. Sekolah merawat solidaritas, bukan hanya kompetisi. Murid belajar bekerja sama, bukan saling mengalahkan. Prestasi tetap dihargai, tetapi belas kasih tidak boleh ditinggalkan.
Ilmu pengetahuan kudu melayani kehidupan dan teknologi kudu menguatkan kemanusiaan. Pendidikan nan sejati menumbuhkan hati nan peka, pikiran kritis, dan tangan nan siap berkarya demi sesama.
Masa depan tidak dibangun pasar semata. Masa depan dibangun manusia utuh, oleh pembimbing nan setia mendampingi, family nan menanamkan kasih, serta masyarakat nan percaya bahwa setiap anak adalah anugerah, bukan nomor statistik.
Oleh lantaran itu, pendidikan kudu tetap menjadi rumah bagi harapan, menjaga martabat, memelihara kebebasan, dan memperjuangkan keadilan. Sementara itu, cinta kepada sesama tetap menjadi pelajaran paling utama.
DOMINASI LOGIKA NEOLIBERALISME
Neoliberalisme adalah suatu paradigma ekonomi, politik, dan sosial nan menempatkan sistem pasar sebagai prinsip utama dalam mengatur kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Menurut David Harvey, neoliberalisme merupakan teori praktik politik-ekonomi nan meyakini bahwa kesejahteraan manusia bakal tercapai melalui kebebasan perseorangan dalam berwirausaha, kewenangan kepemilikan pribadi nan kuat, pasar bebas, dan perdagangan bebas, sementara peran negara dibatasi pada pembuatan dan pemeliharaan kerangka institusional bagi pasar.
Philip Mirowski memandang neoliberalisme bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan juga proyek intelektual nan berupaya membentuk kembali masyarakat agar seluruh aspek kehidupan tunduk pada logika persaingan dan efisiensi pasar.
Sementara itu, Wendy Brown menjelaskan neoliberalisme mengubah penduduk negara menjadi tokoh ekonomi nan dinilai berasas produktivitas, daya saing, dan nilai pasar sehingga nilai-nilai demokrasi, solidaritas, dan kepentingan publik condong terpinggirkan.
Dengan demikian, menurut para master tersebut, neoliberalisme bukan hanya sistem ekonomi, melainkan juga langkah pandang nan memperluas logika pasar ke nyaris seluruh dimensi kehidupan manusia.
Neoliberalisme mengajarkan pendidikan adalah komoditas. Sekolah dipandang sebagai pasar. Murid menjadi pelanggan. Guru diukur dengan angka. Pengetahuan dihitung sebagai investasi. Nilai kemanusiaan perlahan memudar. Padahal, pendidikan lahir bukan untuk diperjualbelikan. Pendidikan adalah ruang bertumbuh. Tempat hati belajar mencintai kebenaran. Tempat logika menemukan kebijaksanaan.
Oleh lantaran itu, melawan neoliberalisme bukan berfaedah menolak kemajuan, melainkan menolak ketika manusia kehilangan martabat di hadapan logika keuntungan.
TATA BAHASA NEOLIBERALISME
Bentuk-bentuk nyata tata bahasa neoliberalisme dalam pendidikan tampak pada penggunaan istilah, langkah berpikir, dan praktik nan mengangkat logika pasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekolah dipahami sebagai penyedia layanan, peserta didik sebagai pelanggan, pembimbing sebagai penyedia jasa, dan pendidikan sebagai investasi untuk meningkatkan daya saing ekonomi.
Keberhasilan pendidikan kemudian lebih banyak diukur melalui indikator-indikator seperti efisiensi, produktivitas, kompetisi, capaian kinerja, peringkat, akreditasi, skor ujian, benchmarking, output, outcome, return on investment, dan employability, sementara dimensi pembentukan karakter, kebijaksanaan, solidaritas, kepedulian sosial, dan pertumbuhan moral condong menjadi perhatian sekunder.
Dalam tata bahasa itu, istilah-istilah seperti human capital, market relevance, customer satisfaction, performance management, dan school branding semakin dominan dalam wacana pendidikan. Akibatnya, bahasa pendidikan bergeser dari kosakata nan menekankan martabat manusia, pembebasan, dan pembentukan penduduk negara nan bertanggung jawab menuju kosakata nan lebih menonjolkan efisiensi ekonomi, persaingan, dan nilai pasar sehingga bahasa itu sendiri turut membentuk langkah masyarakat memahami tujuan pendidikan.
PERLAWANAN SEHARI-HARI
Perlawanan sehari-hari adalah tindakan-tindakan kecil, sederhana, dan konsisten nan dilakukan dalam praktik pendidikan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah kuatnya logika neoliberalisme. Berbeda dengan perlawanan politik, pembelaan kebijakan, alias aktivitas sosial nan berupaya mengubah sistem dari tingkat struktural, perlawanan sehari-hari berjalan dalam hubungan rutin antara guru, peserta didik, kepala sekolah, dan organisasi sekolah.
Perlawanan itu tampak ketika pembimbing lebih mengutamakan pembelajaran nan berarti daripada sekadar mengejar nilai, peringkat, alias sasaran keahlian nan sempit. Bentuk perlawanan itu juga diwujudkan melalui praktik kolaborasi, solidaritas, kepedulian, dan penghargaan terhadap keberagaman, nan menolak menjadikan pendidikan semata-mata sebagai arena kejuaraan pasar.
Meskipun sering tidak terlihat sebagai aktivitas besar, perlawanan sehari-hari mempunyai kekuatan transformatif lantaran secara perlahan membentuk budaya sekolah nan lebih adil, human, dan berorientasi pada perkembangan manusia seutuhnya.
Melawan neoliberalisme dalam sistem pendidikan nasional berfaedah menegaskan kembali bahwa pendidikan merupakan kewenangan dasar setiap penduduk negara dan sarana pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar instrumen untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Dalam perspektif itu, pendidikan kudu berorientasi pada pengembangan karakter, keahlian berpikir kritis, kreativitas, kepedulian sosial, semangat gotong royong, serta tanggung jawab sebagai penduduk negara, di samping penguasaan kompetensi akademik dan keahlian kerja.
Negara mempunyai peran krusial untuk menjamin akses pendidikan nan bermutu, adil, dan inklusif bagi seluruh masyarakat tanpa diskriminasi ekonomi, geografis, dan sosial.
Oleh lantaran itu, kebijakan pendidikan perlu menghindari kekuasaan logika komersialisasi, kejuaraan nan berlebihan, dan pengukuran keberhasilan nan hanya bertumpu pada capaian ekonomi alias angka-angka kinerja. Sebaliknya, sistem pendidikan nasional kudu berdasarkan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, dan semangat kebudayaan Indonesia sehingga sekolah menjadi ruang untuk memanusiakan manusia, memperkuat keadilan sosial ekologis, membangun solidaritas, serta mempersiapkan peserta didik menjadi pribadi nan berintegritas, dan bisa berkontribusi bagi kesejahteraan bersama.
Bentuk-bentuk perlawanan sehari-hari terhadap kejadian neoliberalisme dalam pendidikan dapat diwujudkan melalui praktik pembelajaran nan menempatkan siswa sebagai pribadi nan bermartabat, bukan sebagai objek kejuaraan alias sekadar calon tenaga kerja.
Di ruang kelas, pembimbing dapat membangun budaya dialog, berpikir kritis, kolaborasi, gotong royong, dan refleksi sehingga keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari nilai ujian, tetapi juga dari pertumbuhan karakter, empati, integritas, dan kepedulian terhadap sesama. Guru juga dapat mengurangi penekanan pada persaingan nan berlebihan dengan memberikan penilaian nan menghargai proses belajar, kreativitas, dan perkembangan setiap siswa sesuai dengan potensi mereka.
Di tingkat sekolah, budaya saling melayani, kepemimpinan nan partisipatif, penguatan pendidikan karakter, pelestarian budaya lokal, kepedulian terhadap lingkungan, serta keterlibatan orangtua dan masyarakat menjadi bentuk nyata bahwa pendidikan adalah ruang pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar lembaga nan mengejar peringkat, prestise, alias untung ekonomi.
Dengan demikian, setiap tindakan nan memupuk solidaritas, keadilan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan corak perlawanan konkret terhadap kekuasaan logika pasar dalam pendidikan, serta penegasan kembali bahwa tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia dan membangun kesejahteraan bersama.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·