Hukum dan Ekonomi: Penopang Keberhasilan Piala Dunia 2026

5 jam yang lalu 5

loading...

Jamal Wiwoho. Foto/Istimewa

Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS/Rektor UNS 2019-2024

PIALA Dunia 2026 nan berjalan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko merupakan pesta olahraga sepak bola terbesar di muka bumi itu telah usai. Spanyol keluar sebagai juara bumi baru setelah mengalahkan juara memperkuat Argentina 1-0. Ferran Torres, sang pencetak gol penentu di babak tambahan waktu pada menit ke-106, telah menobatkan Spanyol sebagai ranking 1 urutan sepak bola dunia.

Setiap empat tahun sekali perhatian jutaan apalagi miliaran masyarakat bumi tertuju pada pertandingan nan mempertemukan negara-negara terbaik dalam kejuaraan sepak bola. Namun di kembali gemuruh stadion, sorak-sorai suporter dan penonton, serta indahnya permainan para bintang lapangan hijau, terdapat dua fondasi utama nan menjadikan turnamen ini bisa berjalan sukses, ialah norma dan ekonomi.

Banyak orang memandang dan beranggapan bahwa Piala Dunia hanya sebagai pertandingan sepak bola saja. Padahal, penyelenggaraan turnamen tahun 2026 nan untuk pertama kali ini melibatkan 48 negara, jutaan penonton, ribuan atlet, ratusan sponsor, serta perputaran duit hingga miliaran dolar Amerika tidak mungkin melangkah tanpa kepastian norma dan kekuatan ekonomi. Keduanya menjadi dua sisi mata duit nan saling melengkapi.

Ekonomi Menyediakan Sumber Daya

Dari perspektif pandang ekonomi, Piala Dunia telah berkembang menjadi industri olahraga global. Federasi sepak bola internasional (FIFA) memproyeksikan pendapatan alias (revenue) jenis pesta bola 2026 diperkirakan sekitar USD 8,911 milliar alias sekitar Rp 145-150 triliun rupiah. Komponen pendapatan tersebut berasal dari: kewenangan siar televisi sekitar USD 3,925 miliar (44%); penjualan tiket dan hospitality sekitar USD 3,017 miliar (34%); kewenangan pemasaran alias sponsor sekitar USD 1,786 miliar (20%) serta lisensi merchandisse dan royalty serta pendapatan lain seperti platfom digital, museum FIFA , program kualitas FIFA, video dan lain- lain.

Sebagai organisasi nirlaba, FIFA menganggarkan sebagian besar pendapatanya untuk pengembangan sepak bola dengan rincian penyelenggaraan kejuaraan dan event sekitar USD 4,235 miliar, pengembangan dan pendidikan sepak bola sekitar USD 1,726 miliar; tata kelola (governance) sepak bola sekitar USD 54 juta untuk admistrasi FIFA, pemasaran dan penyiaran, operational termasuk teknologi, logistik, trasportasi, keamanan, legalisasi dan pelayanan tamu. Nilai ekonomi tersebut menunjukkan bahwa olahraga sekarang telah menjadi salah satu sektor industri paling menguntungkan di dunia.

Baca Juga: Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan

Selengkapnya